22
matanja terbuka bundar lantaran hatinja sangat ketakutan. Ia ingat dulu waktu masih ketjil ia pernah mendapat sakit, ibunja mengadjari ia supaja mengesti dan memuhun kepada Betara Aswin, jaitu Dewa kembar jang berkuasa dalam allam kesehatan dan obat-obatan, betul sadja penjakitnja mendjadi sembuh, lantaran itu maka tiap-tiap hari baik ia sesadji dan memudja pada kedua Dewa itu. Sekarang dalam ketakutan, kalbunja mendjerit memanggil-manggil Dewa sesembahannja itu, minta dilindungi dari malapetaka jang menakutkan hatinja. Oleh karena sangat sudjut dan mantap, maka sewaktu itu djuga Betara Aswin jang satu sudah berada disamping kanan, jang lain disamping kiri, mengalingi dirinja Dewi Madrim dengan puhun pisang jang sudah bosok, tapi tidak dapat dilihat oleh mata manusia. Destarastra mendjadi geli ketika merabah kedebog bosok itu, rasanja dingin sebagai majatnja orang mati kalelap, maka sembari bergidig ia mundur beberapa tindak dan lalu menudju ketempatnja Dewi Gendari.
Suatu hal jang aneh telah kedjadian, pada waktu Destarastra berhadapan dengan Retna Gendari, mendadak tjaping hidungnja telah berkembang-kempis, menghambus-hambus sebagai binatang rase mentjium bangkai. Dewi Gendari tidak merasa was atau kuatir, begitupun Sangkuni, karena ia duga gerakannja Destarastra jang demikian itu pasti lantaran djidji dengan bau amis jang tersiar dari badannja. Tapi tiada njana Destarastra makin lama makin dekat dan lalu merangkul lehernja seraja berkata: „Inilah jang aku pilih untuk mendjadi isteriku”.
Orang-orang pernah tua sama berseruh mengaju bahagia dan memberkahi, hanja sang Dewi Gendari sendiri sadja jang hatinja remuk rendam, mengeluh dengan rasa sengsara jang tiada batasnja. Demikianpun Sangkuni hatinja mentjelos dan kaget, ia tiada mengerti kenapa djadi begitu kesudahannja.
Ja, tidak akan ada seorang manusia jang bisa mengerti dalam hal ini, oleh karena asalnja kedjadian ini adalah datang dari djagad lain, jaitu dari allamnja para naga. Marilah kita terangkan,