taannja sang bagawan itu, jang dengan perlahan lalu meramkan matanja dan terus meninggal dunia.
Prabu Pandu djatoh melumpruk diatas tanah, mukanja putjat tenaganja habis sama sekali dan hatinja telah mendjadi kiamat. Ketika ia membuka matanja keadaan rasanja telah mendjadi samun, majatnja Resi Kimindama telah musnạ tanpakrana, ia hanja mendengar lapat-lapat djeritannja mendjangan perempuan ditempat djauh, suaranja menjedihkan sekali.
„Aduh Djagad Dewa Betara”, demikianlah sang prabu mengeluh sembari berdjalan terhujung-hujung, menjasak-njasak duri dan bebondotan, tiada tahu lagi kemana tudjuannja, sehingga hampir sore barulah diketemukan oleh para pradjurit pengiringnja, lalu dibudjuk-budjuk dan direpa-repa supaja suka pulang ke Hastinapura.
Demikianlah maka ketika keduwa permaisurinja membawa bokor kentjana berisi air mawar akan mentjutji kakinja, sang prabu telah mendjerit ketakutan dan kemudian lalu ia menuturkan segala lelakon jang sudah terdjadi atas dirinja.
Setelah mendengar habis tjeriteranja sang suami itu, Dewi Madrim lalu mendjatohkan kepalanja diatas pangkuannja Dewi Kunti sembari menangis terseduh-seduh. Dewi Kunti pun hatinja remuk redam sebagai katja djatoh diatas batu, maka sembari meriba-riba dan mengelus-elus kepala madunja itu ia turut menangis dengan rupa jang sedih sekali. Berbareng itu, semua dajang kraton jang berada diseputar situ pun telah sama menangis gempar dengan suara jang menjajukan hati.
Sesudah sama diam, keadaan lalu mendjadi sunji sekali, jang kedengaran tjuma keluhan dari hati jang putus harapan. Sang prabu duduk diam, matanja tadjam memandang kearah djauh, lama kemudian barulah ia berkata:
„Adinda Kunti dan Madrim, allam dunia ini bagaiku sekarang sudah tidak ada artinja lagi, maka aku ada pikiran hendak meninggalkan tahta keradjaan, pergi bertapa kedalam hutan,