Halaman:Sorga Ka Toedjoe novelisation.pdf/7

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi


Rasminah jang sedari tadi berdiri diam mengawaskan kelakoeannja sang bibi, samperkan Hadjidjah dan berkata :

„Kenapa bibi soeka meinkan itoe lagoe jang selaloe bikin bibi djadi sedih ?”

Hadidjah tidak lantas menjahoet, hanja kembali menghela napas. Kemoedian dengan mengoesoet ia pegang poendaknja Rasminah, siapa ia tarik semangkin dekat dan berkata :

„Akoe njanjikan itoe lagoe saban hari, sebab meskipoen betoel ia bikin akoe djadi sedih, tetapi ia bikin djoega akoe djadi terkenang sama apa jang soedah terdjadi, hingga meroepakan djoega satoe hiboeran bagikoe”.

„Bagaimana bisa djadi hiboeran djika menjebabkan djoega kesedihan ?” Rasminah bertanja.

„Djika kau tidak taoe riwajatkoe tentoe djoega kau tidak bisa artikan maksoedkoe”, Hadidjah mendjawab.

„Tjeriterakanlah, bibi, saja ingin sekali mendengar itoe”, Rasminah mengoendang.

Hadidjah tidak lantas menjahoet, hanja bingoeng sebentar, kemoedian, sesoedah menghéla napas, baroelah berkata :

„Baiklah akoe nanti toetoerkan itoe. doedoeklah disini, diselahkoe, Ras !”

Rasminah laloe doedoek disebelahnja Hadidjah, sedang satoe tangannja masih teroes dipegang oléh bibinja.

„Riwajatkoe pandjang dan menjedihkan”, begitoelah Hadidjah moelai „tetapi baik djoega boeat kau dengar soepaja bisa diboeat katja dalam penghidoepanmoe”.

Hadidjah berhenti berkata-kata sebentar, sembari pentil guitaarnja dengan perlahan, kemoedian teroeskan tjeriteranja :

„Ajahkoe, Ras, ada seorang hartawan jang beradat sangat koekoeh dan kemaoannja selaloe bertentangan

7