Halaman:Sorga Ka Toedjoe novelisation.pdf/51

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi


loemnja Hoesin berpamitam padanja, „akoe tjintakan kau dengan segenap hatikoe dan begitoe lekas akoe soedah dapatkan kedoedoekan jang lebih baik dan gadjikoe tjoekoep boeat kita beroemah tangga, akoe nanti lantas madjoekan lamaran pada bibimoe”.

Parasnja Rasminah berobah merah ketika mendengar itoe perkataan. Dengan sedikit maloe ia mendjawab :

„Djangan terboeroe nafsoe, Hoesin. Akoe tidak maoe menikah doeloe djika bibi beloem bisa dapatkan kembali iapoenja keberoentoengan”

„Djadi kalau ia beloem bisa melihat lagi, kau tidak maoe menikah doeloe, Ras?” menanja Hoesin. „Inilah keterlaloean !”

„Boekan begitoe jang akoe maksoedkan”, menjahoet Rasminah. „Maksoedkoe jaitoe djika bibi beloem berkoempoel kembali sama soeaminja akoe tidak maoe menikah doeloe, meskipoen djoega akoe peen tjintakan kau dengan segenap hatikoe”.

„Kenapa begitoe, Ras? Kenapa moesti menoenggoe sampai bibi berkoempoel lagi bagaimana ?”

„Kau moesti bantoe tjari padanja sampai ketemoe”, berkata Rasminah dengan soeara tetap.

„Dengan segala senang hati dan dengan sepenoehnja tenaga akoe nanti membantoe, Ras”, kata Hoesin, „soepaja maksoed kita poen bisa lekas kesampaian”.

49