-381-
ampoenja perdjalanan, Soen Pin menampak seorang prempoean moeda ada lagi berdiri dengen senderan pintoe roema, sambil me-nangis dengen amat sedihnja. Ja lantas ma-djoe mengampirin di deket sitoe, sembari menanja:
Oh, njonja, apa sebab kaoe tinggal me-nangis begitoe roepa di depan pintoe roema?"
„Akoepoenja laki ada berkerdja di tenga sawa pada depan ini, sedeng akoepoenja mama-mertoea jang beroesia soeda toedjoe-poeloe taon, mendadak kelanggar penjakit oeloe ati jang heibat, sehingga menjebabken sekoetika djoega dia hadepin kematian. Ini-lah sebabnja, mengapa akoe djadi menangis di sini."
Soedalah, njonja," kata Soen Pin semba-ri menghiboer, djanganlah menangis sampe keliwatan, orang jang soeda mati, tiada aken bisa idoep poela; laginja dia toch telah ber-oesia tinggi. Tentang hal kaoepoenja sozami, akoe boleh toeloeng samperin sambil warta-ken kematian ini padanja."
Abis membilang begitoz, lantas sadja Soen Pin landjoetken perdjalanannja menoedjoe ka depan dan bener sekali di sitoe la dapet liat ada seorang toekang sawa lagi kerdja mematjoel sawa dengen glat sekali.