Soengoeh, kalau akoe sampai mensia-siakan mereka, nistjaja akoe kepada selain dari mereka itoe lebih mensia-siakan.
Kemoedian setelah tanggoengan beliau dalam oeroesan roemah tangga difikirkan dan ditjoekoepi oleh Kaoem Moeslimin, baroelah beliau berhenti dari berdjoeal-beli (berdagang)
dipasar, dan tetaplah beliau memperhatikan oeroesan Islam dan kaoem Moeslimin.
15) Diriwajatkan, bahwa pada soeatoe hari sahabat ’Ali dapat pengadoean dari seorang nama Al’Oela, sedang ketika itoe beliau mendjabat Chalifah. Al’Oela mengadoe: „Ja Amiral Moe’minin, saja hendak mengadoekan saudara saja jang bernama ’Ashim bin Zajjad itoe”. S.’Ali bertanja: „Mengapa dia?” Al-’Oela mendjawab:
„Djoebbah besar telah dipakainja sadja, dan oeroesan doenia telah ditinggalkan olehnja, ia tidak soeka beroesaha mentjari penghidoepan”. S.’Ali berkata: „Panggillah si ’Ashim itoe kemari!” Setelah ’Ashim datang menghadap kepada S.’Ali, laloe diberi nasehat: „Hai orang jang memoesoehi dirinja, kamoetelah diselimoeti kemaoean jang kedji; tidakkah kamoe sajang kepada anak dan isterimoe? Adakah kamoe menjangka, bahwa Allah itoe telah menghalalkan barang jang baik-baik, tetapi Dia laloe melarangnja orang jang mengambil jang telah dihalalkan itoe? Perboeatan kamoe itoe tidak ada harganja pada hadhirat Allah sedikitpoen”. Demikianlah kata S.'Ali r.’a.
16) Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanja oleh seorang dari pada moeridnja; „Betapakah pandangan toean terhadap orang jang doedoek termenoeng diroemahnja atau dimesdjidnja sambil berkata: „Akoe tidak akan beroesaha sesoeatoe apapoen, rezgikoe biar datang sendiri kepadakoe.„?
Beliau mendjawab: „Inilah seorang laki-laki jang amat bodoh, tidak ada pengetahoean sedikitpoen. Tidaklah ia dengar sabda Nabi s.’a.w.: „Bahwasanja Allah djadikan rezqikoe di
bawah bajangan toembakkoe, ja’ni: beroesaha”.
17) Selandjoetnja Imam Ahmad mendjelaskan: „Adalah para sahabat Nabi s.’a.w. itoe sama berdagang, baik didaratan maoepoen dilaoetan, dan mereka itoe poen sama bekerdja di keboen-keboen mereka sendiri”.
18) Imam Ibrahiem bin Adham pernah ditanja: „Mana jang lebih engkau soekai, orang jang berdagang dengan djoedjoer ataukah orang jang selaloe ber’ibadah sadja?” Beliau mendjawab: „Orang jang berdagang dengan djoedjoer jang
lebih akoe soekai, lantaran ia dalam berdjoeang menentang sjaithan”.
19) Imam Al-Auzaa’y pada soeatoe hari bertemoe moeka dengan Imam Ibrahiem bin Adham, sedang diatas leher Imam Ibrahiem ada tali pengikat kajoe, kata Imam Al-Auzaa’y: „sampai kapankah engkau berboeat seperti ini, pada hal saudara-saudaramoe telah mentjoekoepi penghidoepanmoe, boekan?” Imam Ibrahiem mendjawab: „Biarkanlah akoe berboeat begini, ja abaa ’Amer! Karena sebenarnja telah sampai kepadakoe soeatoe pimpinan jang berboenji: „Barangsiapa berhenti ditempat perhentian jang hina dalam menoentoet rezqi jang halal, maka wadjib baginja masoek ke Soerga”.
20) Imam Foedhail bin ’Ijadh pernah berkata kepada Imam Ibnoel-Moebarak: „Engkau memerintahkan kita soepaja kita berzoehoed dan menjedikitkan oeroesan doenia, serta mentjoekoepkan penghidoepan jang sedikit, tetapi akoe lihat engkau mendatangkan beberapa barang dari negeri Choerasan kenegeri haram (Makkah), bagaimanakah itoe? Padahal engkau perintah kepadakoe dengan bersalahan perboeatan engkau sendiri ini”, Imam Ibnoel-Moebarak
mendjawab: „Ja Abaa ’Ali, akoe berboeat begini ini oentoek memelihara dirikoe dengan dia, dan memoeliakan kehormatankoe dengan dia, serta akoe meminta pertolongan boeat bakti kepada Toehan-koe dengan dia. Akoe tidak bisa melihat kepada Allah dengan sebenar-benarnja, melainkan tjepatlah akoe kepadanja, sesoedah akoe mengokohkan dia”. Imam Foedhail laloe berkata: „Ja ibnal-Moebarak! Alangkah baiknja ini sekira telah sempoerna ini!” Tegasnja: Alangkah baiknja djika oeroesan penghidoepan ini baik, goena menjempoernakan bakti kepada Toehan!”
* * *
Demikianlah diantara perkataan-perkataan para sahabat Nabi, para Imam dan para penoentoen kaoem Moeslimin zaman dahoeloe, zaman ketjerdasan Islam jang berarti andjoeran dan memerintahkan kepada kita kaoem Moeslimin, soepaja beroesaha mentjari rezqi pemberian Toehan dan giat bekerdja oentoek mengedjar kekajaan doenia.
——————————————————————————————
BERKABOENG
Inna li'llahi wa inna ilaiHi radji‘oen
Pada hari tanggal 6 Desember 2608, djam 2 siang, diroemah P.T. Kolonel Maeda, oleh 50 orang ’Alim ’Oelama sebagai wakil oemmat Islam di Djawa, jang telah menghadap P. J. M. Saiko Sikikan, telah diadakan sembahjang gaib bagi almarhoem Toean Hadji Oemar Faizal Kobayashi, jang beloem berapa lama ini telah meninggal
doenia, berpoelang kerachmatoe’llah.
Sembahjang terseboet diimami oleh Toean K. H. Hasjim Asj’ari Ketoea Besar „MASJOEMI”.
Beliau almarhoem pada waktoe hidoepnja mendjabat Ketoea Perserikatan Islam, dan beliau selaloe beroesaha menjoeboerkan Agama Islam di Soelawesi.
Pada waktoe terseboet dihadiri djoega oleh P. Toean-toean: Kolonel Maeda dari Angkatan Laoet, Miyoshi dari Gunseikanbu, dan pegawai Angkatan Laoet.
Sekali lagi kita mengoetjapkan: Inna li’llahi wa inna ilaiHi radji’oen. Moga-moga roeh beliau diterima ALLAH sebagai roeh jang soetji moerni dan ’amal beliau diterima-Nja mendjadi ‘amalan jang manfa’at doenia dan achirat. Amin!
——————————————————————————————
12