Beroesaha Mentjari
PENGHIDOEPAN DAN KEKAJAAN DOENIA.
Oleh: H. MOENAWAR CHOLIL.
(II — Penoetoep)
(Samboengan „s. Miai” no. 17).
Berkenaan dengan adanja ajat-ajat dan hadits-hadits sebagai jang terseboet diatas itoe, maka para sahabat Nabi, para pemoeka kaoem Moeslimin serta para ’alim ’oelama Islam zaman dahoeloe, — zaman keemasan Islam — banjak jang memberi penerangan dan toentoenan kepada oemmat Islam jang diantaranja seperti jang saja koetib dibawah ini:
1) Sahabat ’Oemar bin al-Chaththab r.’a. berkata: „Djanganlah seorang dari pada kamoe selaloe doedoek sadja daripada mentjari rezqi Pemberian Toehan, sambil berkata (berdoe’a): „Ja Toehan, berikanlah rezqi kepada hamba! Ja Toehan, berikanlah rezqi kepada hamba”. Pada hal kamoe tahoe, bahwa langit dan boemi itoe tidak menoeroenkan hoedjan emas dan perak. Sesoenggoehnja manoesia itoe diberi rezqi oleh Toehan dengan perantaraan sebahagian mereka dari sebahagian jang lain; dan Toehan telah bersabda djoega; „Apabila telah diselesaikan
(mengerdjakan) Shalat (dihari Djoem’ah), hendaklah kamoe boebaran — mengembara- di moeka boemi, dan tjarilah olehmoe karoenia dari pada Toehan”.
2) Pernah djoega beliau (s.’Oemar) berkata kepada para orang ahli membatja Al-Qoeran, demikian: „Hai para ahli membatja, toentoetlah olehmoe akan rezqi, dan djanganlah kamoe menjadi beban bagi orang² lain”.
3) Dalam lain riwajat beliau berkata:
„Hendaklah kamoe berloemba-loemba mentjari kebadjikan, dan tjarilah olehmoe akan karoenia dari Allah, dan djanganlah kamoe mendjadi tanggoengan atas orang lain”.
4) Lagi poela beliau pernah berkata: „Tidak ada tempat, jang datang kematian kepadakoe didalam tempat itoe, jang lebih akoe soekai, selain dari pada tempat jang akoe bersoesah pajah didalamnja lantaran berdjoeal-beli (berdagang) boeat nafakah ahlikoe”.
5) Pada soeatoe tempoh s. Aboe Qilaabah bertemoe kepada salah seorang kawannja jang senantiasa berada didalam masdjid, tidak soeka beroesaha mentjari penghidoepan, maka beliau berkata: „Seandainja akoe melihat kepada kamoe sedang mentjari penghidoepan kamoe, itoe lebih baik dari pada akoe melihat kamoe selaloe
doedoek disekitar masdjid”.
6) Sahabat Aboed-Dardaa pernah berkata kepada s. 'Oewaimir demikian: „Daripada
ketjerdikan seseorang dalam oeroesan agamanja, hai ’Oewaimir, ialah kebaikan kamoe dalam oeroesan penghidoepanmoe”.
7) Sahabat Anas r.’a. pernah berkata: „Barang siapa tidak menegakkan pada oeroesan
penghidoepannja, tidaklah ia menegakkan pada oeroesan agamanja”.
8) Sahabat Ibnoe Mas’oed berkata: „Sesoenggoehnja akoe amat bentji kepada seorang laki-laki jang kosong, tidak mengoeroes oeroesan doenia, dan tidak poela mengoeroes akan oeroesan achirat”.
9) S. Aboed-Dardaa pernah berkata poela: „Daripada ketjerdikan seorang laki-laki Islam itoe, ialah ia menoentoet perbaikan akan oeroesan penghidoepannja”.
10) Lagi, beliau pernah berkata: „Kebaikan penghidoepan itoe dari kebaikan agama; dan
kebaikan agama itoe dari kebaikan ’aqal”.
11) Pada soeatoe hari s. ’Oemar r.’a. melihat s. Zaid bin Maslamah sedang mengerdjakan ladangnja, laloe beliau berkata: „Kamoe benar, toentoetlah kekajaan, biar kamoe djadi orang jg. lebih memelihara kepada agamamoe, dan lebih moelia bagi kamoe daripada manoesia jang menanggoengkan dirinja kepada orang lain”.
12) Sahabat Aboe Qilaabah pernah berkata kepada s. Ajjoeb: „tetaplah kamoe dalam pasarmoe, karena kekajaan itoe dari pada kesehatan”.
13) Beliau pernah berkata poela: „Hai Ajjoeb, tetapilah olehmoe dalam pasarmoe, karena sesoengoehnja didalam pasar itoe tidak memboetoehkan pada lain orang, dan djadi kebaikan dalam agama”.
14) Diriwajatkan: Bahwa sd. Aboe Bakr r.’a. adalah seorang saudagar besar dimasa Nabi s.’a.w., dan kebiasaan beliau pada tiap-tiap pagi hari datang kepasar dengan bawa dagangan. Kemoedian diwaktoe beliau diangkat mendjadi
Chalifah Rasoel Allah s.’a.w., maka pada pagi-pagi hari seperti kebiasaan beliau, berangkatlah beliau kepasar dengan membawa dagangan jang akan didjoealnja. Selandjoetnja pada soeatoe hari beliau bertemoe dengan s. ’Oemar dan s. Aboe ’Oebaidah ditengah djalan, laloe kedoea-doeanja bertanja kepada beliau: „Engkau hendak kemana?” s. Aboe Bakr mendjawab dengan terangnja: „Kepasar”. Kedoea sahabat tadi bertanja poela: „Pekerdjaan apakah jang hendak engkau kerdjakan ini, sedang engkau soedah diangkat oleh oemmat Islam mendjadi Chalifah oentoek mengatoer dan memerintah mereka?” Djawab beliau: „Darimanakah akoe akan mendapat rezqi goena memberi makan ahli-ahlikoe dan orang² jang djadi tanggoengankoe sekarang ini?” Kemoedian beliau melandjoetkan lagi dengan soeatoe pendjelasan: „Mengapa engkau melarang akoe mentjarikan makan boeat ahli-ahlikoe?
11