SATOE GADIS BANDEL.
djikaloe ia kasi katerangan bahoea ia telah koendjoengin sobat sobatnja, tida djarang iboenja mentjari katerangan lebi djaoe dan ia-poenja djoesta djadi ternjata. Boleh djadi ada paling gampang boeat bilang sadja ia telah menonton bioscoop, tapi katerangan bagitoe biasanja membikin ia-poenja iboe djadi menanja, apa jang dipertoendjoekken, dimana ia menonton dan laen-laen lagi. Dan Hoei-nio anggep itoe samoea katerangan tida perioe.
Lagi sakalih: ia soeda besar, ia soeda ampir dewasa dan menoeroet anggepannja ia soeda bisa djaga diri sendiri, hingga ia tida oesa ditilik lagi saperti satoe anak jang baroe bisa djalan. Ia ingin merdika dan merdika bagitoe loeas, saperti ia sendiri anggep ada baek boeat dirinja.
„Apa kaoe kira ada bagoes boeat glandangan di waktoe malem Hoei, ingatlah, kaoe ada satoe prempoean, satoe gadis. Bahaja jang mengantjem pada kaoe ada banjak sekali, djikaloe kaoe tida maoe robah kaoe-poenja klakoean. Tjobalah kaoe dengar-dengar, apa jang orang ada bilang tentang kaoe-poenja diri. Akoe jang mendjadi iboe, tentoe sadja tida bisa senang mendengar itoe samoea tjerita jang mendjelekin kaoe-poenja diri !”
„Orang-poenja tjerita, iboe? Perdoeli orang bilang apa tentang akoe-poenja diri.” bagitoe itoe gadis membri djawaban pada iboenja. „Hoei tida perdoeli apa jang orang bilang tentang Hoei poenja diri. Sebab djikaloe kita miskin, toch belon tentoe „orang” maoe membri pertoeloengan. Boekankah sekarang kita djoega tida dapet pengidoepan dari laen orang?”
Njonja Tjoe-bing gojang-gojang kepala, lantaran kewalahan.
Bagitoe selamanja pertjektjokkan antara itoe iboe dan anak berachir. Sang iboe tida koeat boeat bertaroeng lidah dengen poetrinja, jang boekan sadja brani, tapi djoega tida soeka gampang menjerah. Hoei-nio tida soeka mengalah dan djikaloe iboenja belon diam, maski bagimana djoega ia mendesak teroes sampe sang iboe menjerah kalah.
Tapi siapa jang moesti disalahken, djikaloe Hoei-nio djadi satoe gadis jang bagitoe kepala batoe ? Tida ada laen, hanja iapoenja ajah dan iboe sendiri, jang telah menjinta dengen kliroe pada poetrinja itoe.
Lantaran tjoema mempoenjai satoe poetra, Tjoe-bing dan istrinja selaloe toeroetin maoenja Hoei-nio, di waktoe ia ini masi ketjil. Djikaloe sang ajah marah, nistjaja sang iboe jang melindoengin, dan sebaliknja djikaloe sang iboe jang hendak kasi adjaran sadikit keras pada poetrinja, sang ajah jang menghalangi. Lantaran bagitoe djoega Hoei-nio djadi aleman boekan maen. Seringkalih,
5