MANA SOEAMIKOE . . . . . ?
betoel apa jang telah terdjadi. O, itoe soerat . . . . . . .
Tapi soenggoe heran! Ia tida merasa doeka atawa menjesal! Sebagi djoega ia-poenja penjakit ada sebagi meleboer ia-poenja toeboeh dan soemanget, itoe penjakit membikin Hoei-nio saperti baroe terlahir dan ia-poenja pengrasaän boeat Tjing-biauw tida mengikoet.
Ia tjoema mengelah napas beroelang-oelang, tapi tida satoe keloehan terdengar kaloear dari bibirnja . . . . . . .
„Boelan Poernama” No. 18.
VIII.
ADOE OENTOENG.
Tiga hari kamoedian, di waktoe Hoei-nio belon mendoesin, satoe anak moeda dianter masoek ka dalem itoe gadis-poenja kamar. Itoe djedjaka roepanja maloe dan kikoek satelah berada dalem itoe kamar, jang pintoenja tinggal terboeka sabelah, ia djadi tjelingoekan dan laloe doedoek di satoe krosi jang berada di sampingnja itoe pembaringan.
Njonja Tjoe-bing sama sekali tida mendoega, jang Hoei-nio soeda ingat betoel apa jang telah terdjadi dengen dirinja dan lantaran kombali itoe anak tanja dimana adanja ia-poenja soeami, maka Oen-liang dioendang boeat dateng, saperti soeda didjandji.
Dengen hati berdebar-debar itoe djedjaka menoenggoe apa jang aken terdjadi. Ia ada saperti saorang jang mengadoe oentoeng. Apakah ia aken djadi beroentoeng atawa tjilaka?
Dengen pandjang lebar padanja telah dikasi taoe, apa jang mendjadi sebab hingga njonja Tjoe-bing madjoeken itoe voorstel jang aneh. Dan Oen-liang ternjata tida sangsi-sangsi waktoe ia soeda mengarti apa jang dimaksoed.
76
77