Lompat ke isi

Halaman:Siotjia kepala batoe.pdf/38

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

MANA SOEAMIKOE . . . . . ?

karang soekoer kaoe moelai djadi semboeh, tapi djangan bergerak, Hoei, dan djangan terlaloe banjak bitjara. Akoe harep kaoe aken djadi waras saperti doeloe dalem sadikit tempo, tapi perloe kaoe toeroet betoel akoe-poenja maoe, kerna djikaloe kaoe membantah, nistjaja lagi bebrapa lamanja kaoe moesti tinggal dalem kamar, malah bisa djadi djoega kaoe-poenja penjakit kamboeh kombali.”

Hoei-nio manggoet.

Dengen dibantoe oleh satoe djoeroe rawat jang pande, achirnja Hoei-nio poenja keadaän djadi bagitoe roepa, hingga bisa dibilang ia soeda terlepas dari bahaja.

Pelahan dengen pelahan ia-poenja pikiran jang djernih balik kombali, dan moelai ingat-ingat apa jang telah terdjadi sabelonnja ia sakit. Ia ingat bahoea ia ampir menikah dan satelah mengingat bagitoe, ia merasa tentoe sekali ia soeda djadi istrinja Tjing-biauw. Dan dengen mendadak, dengen tida terdoega sama sekali, di soeatoe pagi ia menanja pada iboenja:

„Mama, boekankah akoe soeda menikah?”

Djikaloe krosi jang ia sedeng doedoekin djadi patah dan ia djatoh terdjoengkel di itoe saät, brangkali njonja Tjoe-bing tida djadi bagitoe kaget saperti tempo mendengar itoe pertanjaän.

Djawaban apa ia moesti kasi. Inilah ada satoe saät jang penting, djikaloe ia kasi djawaban jang kliroe, jang membikin kaget pada Hoei-nio nistjaja itoe gadis poenja penjakit aken kamboeh kombali. Tapi apa jang nanti membikin ia kaget dan apa tida? Inilah sang iboe tida taoe dan di itoe waktoe ia djadi berkoeatir sanget.

Hoei-nio memandang teroes pada iboenja dan menoenggoe djawaban. Ia merasa heran jang djawaban itoe tida lantes dikasi.

„Apa betoel, mama, akoe toch soeda menikah?”

„Betoel, Hoei, kaoe soeda menikah . . . . . !” djawab njonja Tjoe-bing dengen soeara jang ampir tida kadengaran, dan memandang dengen teliti pada poetrinja boeat liat sesoeatoe perobahan jang bisa terdjadi pada dirinja itoe gadis sasoedanja dengar ia-poenja djawaban.

Tapi Hoei-nio tida djadi kaget mendengar itoe djawaban, malah keliatan ia bersenjoem.

„Tapi djikaloe akoe soeda menikah, di mana adanja akoe-poenja soeami?” tanja ia kamoedian.

Kombali satoe pertanjaän jang soeker didjawab dengen lantes, sebab memangnja Hoei-nio toch belon bersoeami.

„Ia sedeng pergi, Hoei, lagipoen sekarang kaoe belon boleh bertemoe dengen ia, sebab kaoe masi sakit, nanti kaoe-poenja

68

69