— 231 —
„Han Thian Kim lantaran ada mempoenjai tenaga besar,” kata keizer Song Djin Tjong, „di sini ada doewa Teng besi, belon taoe apa ia koewat angkat atawa tida. Di djaman doeloeka karadjahan Tjin ada seorang gagah jang bernama Beng Poen, telah berlomba mengangkat Teng sama Tjin Boe Ong, tapi ia terseboet belakangan lantaran kahabisan tenaga djadi binasa. Pauw-kheng, apa inget ini hikajat?”
„Hamba inget betoel hikajat itoe,” djoeoengdjoeangan jang maha moelia, djawab itoe ambtenaar jang ditanja.
Tan Lim lantas mengempari lagi pada Han Thian Kim dan berkata: „Baginda keizer soeroe kaoe mengangkat itoe kwali-besi, apa kaoe bisa ?”
„Apa jang dikatakan mengangkat koewali-besi ?” balik menanja si Goblok.
„Tidalah benar djika ia bilang jang ia tjoema bisa makan nasi,” berkata Tan Lim dalam hati, „sebab sekarang ternjata iapoenja otak begitoe poenja poentoel.” Kamoedian ia menoendoek pada itoe „Teng” dan berkata dengan soewara terang: „Itoelah jang dinamaken Teng!”
„Och, kiranja itoe barang permaeanan ketjil,” kata Han Thian Kim. „Apa diangkat sama sebelah tangan atawa doewa tangan?”
„Sama doewa tangan akoe rasa belon tentoe kaow koewat angkat,” kata Tan Lim. „Tjoba kaoe pergi doeloe ke sana boewat tjoba-tjoba.”
Orang tentoe merasa heran bagimana di hadapannja baginda keizer, itoe kapala orang kebiri berani djoeroeskan menoeroet sabagimana ia sendiri poenja maoe. Sebab pada djeman pamarentahan sewenang-wenang, keizer, itoe tida bereda sebagi Allah, jang orang mesti takoeti dan hormatken. Tapi pertama lantaran Tan Lim ada sediki orang berani dan rasa besar dalam hal menoeloengkan baginda keizer koetika ditindis oleh orang jang lalim, lagian memandjang keizer Song Djin Tjong ada soed keizer jang bersifat adil dan moerah.
Itoe waktoe Tan Lim lantas adjak Han Thian Kim menoedjoek ke sabelah Oetara, tatkala ia berbangkit berdiri, saming—