— 200 —
biar poen di pinggangnja ada tergantoeng satoe golok, toeh ia soeda loepa tjaboet.
Him Wie, Peh Giok dan Han Liang satelah mendenger Han Thian Kim berseroeh baroe inget menghoenoes golok, tapi itoe pemboenoeh lebih siang soeda pandjangken kakinja maboer sakeras-kerasnja. Itoe tiga orang mengoeber dari blakang. Hwan Thian Poo tadinja berniat tida maoe bikin perlawanan, tapi sama-sekali ia tida sangka di sabelah depan lebih siang soeda ada saorang. jang menjegat, Itoe orang memake pakean dari soetra idjo, paras moekanja berwarna itam, jang ditimpalin sama sapasang halis poetih dan mata jang bersorot tadjam dan moeloet jang sedikit lebar. Ditangannja ada memegang satoe golok jang di gagangnja ada memake satoe tjintjin. Itoe waktoe ia gerakin goloknja dan mengandang di orang poenja perdjalanan.
„Hei, manoesia jang hina-dina, djangan lari!” kata orang itoe, „kaoe poenja aki sadari lama soeda menoenggoe di sini.”
Orang itoe boekan laen dari San-see-gan, Tji Liang, jang tadinja lagi doedoek dalem satoe kreta sama Say-koan-lok, Goei Tjiang, sembari pasang omong dan koetika meliat kaädahannja itoe tempat, di sapoeternja ada gombolan poehoen dan tida djaoe dari sitoe ada satoe rawa jang penoeh sama alang-alang tinggi dan lebat.
„Ini tempat akoe rasa tida baek, Goei sianseng,” kata ia pada kawannja.
„Mengapa tida baek?” menanja sang kawan.
„Sekarang pada waktoe siang masi tida mengapa, tapi kaloe di waktoe malem ada bagoes sekali digoenaken sebagi tempat mengoempetnja pendjahat jang maoe berlakoe hianat.”
„Kita orang sekolahan tida mengarti hal itoe.” Itoe waktoe Tji Liang toedjoeken pemandangannja ka djoeroesan itoe rawa alang-alang, lantas sadja ia dapet liat ada doewa bajangan orang jang bergerak-gerak. Dengen tida memboewang lagi tempo ia berlompat toeroen dari kanda-