— 184 —
soekan baletantara negri, jang mengeroeng pada isoerang, semoewanja djaadi sangat katakoetan dan tidak bernapsoe boewat bertanding lebih djaoe dan baroe sadja isoerang berniat pandjangken kaki dan merat, mendadak isoerang katemoekan Yauw Beng jang begitoe lihaj, lantas, apa bila tiada ada barang satoe orang sadja brani madjoe mendekatin. Tapi, djika isoerang maoe merat poen tidak bisa, sebab soeda terkeroeng oleh baletantara negri dari satoe goeroetan ka satoe laen dan tidak bisa menerobos dari dikoepoengan, toch achirnja ia moesti kena tertangkap djoega oleh pasoekan baletantara jang berkoeda, jang semoewanja menegoenalkan sendjata pandjang. Taro kata tidak terkena sendjatanja itoe soldadoe koeda, toch isoerang tidak nanti bisa terlepoet dari terdjanganja itoe bintang toenggangan.
Yo Tjongpeng jang madjoe menerjang sama iapoenja sabatang toembak poen soeda membikin ripoh pada orang-orangnja Lou Khay. Tjoema sadja ia tidak bisa kenalin jang mana itoe orang-orang jang mendjadi kawannja Liong Tho dan Yauw Beng.
„Hei, sama dianja itoe orang-orang jang mendjadi kita poenja kawan!” berseroeh satoe pembesar militair.
„Iti tiga orang semoewanja ada kita poenja kawan,” sa’oet Liong Tho.
„Kita jang berada di Barat-oetara semeowa ada kita poenja kawan; tersisa poen Pang Jan. Kaoe poen harus tetap tempet di sini sama kita-orang, djanggan sekali berdiri di Timoer-selatan!”
Yo Peng Boen tidak mengarti mengapa kawan sendiri moesti pada berdiri di Barat-oetara, sedang itoe kawanan pendjahat ada di Timoer-selatan. Ia pikir itoe maksodnja boewat halang satoe orang jang mendjaga bila kawanan pendjahat hendak poeloeng dan djoempoet, djadi tidak ena dan roepanja itoe djoega ada satoe petandja baik. Maka ia lantas menoeroeti dan berseroeh pada pasoekannja jang baroesan dikasi waktu soedah soesah, soepaja segeralah mengoeroeng kebawa pendjahat. Tjoema sadja ia menoenggoe itoe Bahwaoe.