Lompat ke isi

Halaman:Siauw Ngo Gie 02.pdf/68

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

— 146 —

„Akoe boekan sadja soeda bertoendangan," kata ia, malah soeda menikah."

Pang Jan dalem hatinja djadi sangat riboet. Dalem hatinja berkata: „Ini orang soenggoe terlaloe tida ada goenanja. Berdjoesta di antara pendjahat masa boleh djadi apa sih !"

Djawabannja Louw Tien jang sadjoedjoernja soeda membikin Lou Khay djadi poetoes harepan, sabagi djoega kapalanja digoejoer sama aer dingin. Pang Jan dengen paras moeka jang saparo soenggoe-soenggoe dan saparo maen-maen memandang pada itoe toewan roemah.

„Oh, kiranja akoe poenja soedara ini soeda menikah," kata ia; ,,tapi akoe sendiri masi belon mempoenjai toendangan. Akoe rasa Tjoei Toako poenja pertanjahan tentoe ada sebabnja. Apa barangkali ada soeatoe oeroesan jang menggirangken? Akoe sendiri tida merasa maloe boewat oeroesan begitoe. Kita poenja nabi ada bilang Perkara tida berbakti ada tiga matjem; tida mempoenjai toeroenan ada jang paling heibat. Maka sekarang akoe maoe minta pertoeloengan pada toewan-toewan sekalian jang berada di sini, apabila ada perdjodohan jang menjotjokin, soekalah kiranja toeloeng bitjaraken boewat akoe."

Sahabisnja berkata ia lantas tertawa bergelak-gelak. Louw Tien lantas memandang padanja dengen mata mendelik dan moeka berengoet, Tjoei Liong lantas berpaling pada Lou Khay.

,,Begimana, soedara ?" menanja ia.

Lou Khay keroetken halisnja dan golengken kapala sedikit. Samentara Pang Jan jang merasa ingin sekali tipoe dan dapetken itoe barang aneh jang digoenaken oleh itoe gadis, roepanja tida maoe moendoer dan mendesak.