terdapet satoe soerat dari kertas merah, tapi pintoe dan djendelanja sama-sekali tida ada tanda-tanda bekas diboeka, djadi tida ketaoean siapa iang soeda anterken.
„Tioba ambil dan bawa ka sini,“ mintah Pauw Kong.
Itoe waktoe Lie Tjay lantas goenting soemboenja itoe pelita jang soeda berkembang dan Pauw Hin ambil itoe soerat dan angsoerken pada ia poenja madjikan, jang lantas samboetin dan batja boenjinja seperti berikoet:
„Alam bisa menerbitken bintjana jang tida terdoega, manoesia menampak bahaja jang tida tersangka, Siangya setia pada negri dan menjinta pada rahajat, serta bakerdja dengen sagenap tenaga goena kaberoen toengan marika itoe. Besok malem Siangya moesti bikin pendjagahan keras dan hati-hati, sebab bakal ada pemboenoeh jang bermaksoed djahat. Warta dari saorang jang mentjinta.“
Pauw Kong pikir ini hal terdjadinja begitoe aneh, teroetama ia tida taoe siapa adanja itoe orang jang mengasi kabar, Tapi di laen fihak soeda membikin Pauw Hin djadi sanget kata koetan hingga iapoenja sa'antero toeboe bergoemeteran sabagi dioega orang jang kadinginan. Sedang Pauw Kong sendiri tida maoe riboetken itoe oeroesan, jalah ia lemparken itoe soerat di alas satoe medja toelis. la lantas bangoen dan berpakean dengen rapih dan di laen fihak ia soeroe orang sediaken iapoenja djoli dan pengikoet-pengikoet boewat masoek ka kraton. Dan soeda tentoe sadja Pauw Hin tida katinggalan.
Kabetoelan sekali itoe hari dalem kraton tida ada oeroesan apa-apa, djadi tida perloe ditoetoer-