SI NONA MERAH......
3
tjerita ini terdjadi belon ada taxi, hingga djarang orang naek auto.
Marika tida tida pikirken barang satoe sa'at sadja, bahoea tiap-tiap manoesia dalem hidoepnja moesti menghadepi satoe masa jang sanget berbahaja bilamana tida ada kendali koeat, jalah masa akil-balég boeat kauem lelaki dan masa remadja-poetri boeat kaoem wanita.
Segala perboeatan sembrono, tersesat, gila, bodoh, pendek kata hal jang tida senoenoe sering dilakoeken orang pada masa itoe dengen orang ini tida insjaf atas kekliroeannja dan jang lebih tjilaka adalah perboeatan koerang pikir di waktoe masih moeda ini membawa akibat heibat sampe di hari toea.
Demikian dengen keadaannja Hing Nio.
la telah menaroh tjinta pada seorang pemoeda jang tjara kasarnja dibilang „boeaja krontjong". Di waktoe terang boelan poernama pemoeda Ban Pwee djalan moendar-mandir depan gedongnja Baron Han sembari mementil guitaar dan menjanjiken lagoe-lagoe jang djaoeh boeat dikata sopan, tapi tjoekoep menjedepken telinga seorang gadis jang ibarat boenga baroe mekar dan dahaga aken sinar matahari dan remboelan.
Hing Nio jang mengintip dari djendela loteng gedongnja merasa ketarik betoel oleh segala pantoenannja pemoeda Ban Pwee ini, sehingga bebrapa pantoenan itoe lantaran sering dioelangken oleh Ban Pwee djadi tertjatet dalem seboeah boekoe toelis jang ia semboeniken di bawah kasoer dan boenjinja begini:
Vele golven of Plaboean Ratoe,
Petik delima op Kampoeng baroe.
Banjak bintang di langit biroe,
Jang koe tjinta si nona satoe.