111
Si Nona Merah.....
____________________
Oleh: POUW KIOE AN
____________________
1. Antara mati dan maloe.
PADA bebrapa belas tahoen jang laloe, bilamana orang liwat Kaliondo Soerabaia, orang aken nampak seboeah gedong jang indah. Gedong ini ada miliknja seorang millionnair Tionghoa, seorang fabrikant goela di Djawa Timoer.
Kerojalannja sanget terkenal, hingga ia dapet djoeloekan Baron Han.
Tapi penghidoepan jang begitoe mewah dan jang bikin orang banjak mengiri, di sebelah dalemnja ada terselip hal jang tida dapet dirasaken beroentoeng oleh Baron Han ini.
Tida ada sesocatoe hal jang lebih membikin kaloet perasaan hati daripada menghadepi roemah tangga jang koerang beres.
Istrinja Baron Han jang kaloe kondangan atawa pergi ke Pasar Toendjoengan seperti toko emas-inten berdjalan, saking reboh pakeannja, hingga ia terkenal dengen seboetan Njonja Inten, setiap hari bersobatan dengen kartoe sadja.
Perawatan roemah maen pasrah baboe, koki dan djongos sadja, sedengken gadis satoe-satoenja tida mendapet didikan jang selajiknja nona hartawan dapet.
Betoel Baron Han mampoeh panggil onderwijzeres Europa ka gedongnja oentoek meloeloe memberi peladjaran pada HING NIO, begitoe nama anaknja, aken tetapi sajang Baron Han masih conservatief alias terlaloe koeno, kerna setelah Hing Nio ber-oesia 15 tahoen, peladjaran bahasa Belanda distop. Katanja orang prempocan tida oesah pinter-pinter,