PENDEKAR „DJIKALO”
119
Soedah barang tentoe njonja Bo-tjay jang tida mengira atas terdjadinja itoe katjilakahan, kerna roeangau belakang jang diboeat berdjoedi itoe letaknja, ada tjoekoep djaoeh dari roeangan tengah dan kamar-kamarnja itoe gedong, menampak soeaminja digotong kawan-kawannja, djadi sanget terkedjoet dan tida mengerti apa jang telah dialamken oleh soeaminja.
Tetapi satelah ditoetoerken, baroelah ini njonja mengetahoei apa jang telah terdjadi, maka ia poen dengen ripoe sekali lantas beriken perawatan-perawatan jang saperloenja.
Bo-tjay dibawa masoek dalem kamar dan direbahken diatas pembaringannja. Iapoenja loeka-loeka poen lantas ditoeloeng, hingga tida antara lama soemangetnja Bo-tjay bisa terkoempoel poela.
Ia tjelingoekan kearah sekiter kamar dan mendadak ia djadi terkedjoet tatkala kadoea matanja menampak ada apa-apa diatas bantal sebelah dalem dari pembaringannja. Dengen mata melotot ia toedingken tangannja ka djoeroesan itoe bantal sembari bertreak: „Hei, apa itoe. . . . . . .?!”
Semoea mata laloe ditoedjoeken ka arah toedingannja Bo-tjay, dimana ternjata ada tertampak seboeah piauw-ketjil jang menantjep diatas bantal dan satelah ditjaboet oleh salah-satoe orangnja Bo-tjay, di gagangnja itoe piauw terdapet soerat jang melipet dengen teriket benang soetra merah. . . . . . .!
Kombali kagemperan terbit di dalem kamarnja Bo-