118
TJILIK-ROMAN'S
Kepala banjak jang djadi bendjol dan idoeng serta mata banjak jang mengoetjoerken darah.
Sekarang, Bo-tjay sendiri meliat kambratnja tida oengkoelan tandingin lawannja, ia madjoeken diri boeat toeroen tangan. Ia memang terkenal djoega sebagi saorang jang mempoenjai kapandean koenthauw sampe tjoekoep, mengatasin semoea pendoedoek di tempatnja, ini kali aken djadjal sampe di mana iapoenja kaoenggoelan. . . . . . .
Dengen menggereng seperti matjan kalaparan, Bo-tjay lantas menjerang sang lawan dengen goenaken tipoe silatnja jang paling ia andelken, aken tetapi. . . . . . . ohooo. . . . . . . sabelon serangannja —— maski anginnja sadja —— bisa mendekatin toeboehnja sang moesoeh, atawa sakoenjoeng-koenjoeng dengen sekali mendjerit ia sendiri djatoh tengkoeroep dengen idoeng dan moeloet berboboran darah kentel.
lapoenja dada kemampiran tendangannja sang lawan jang begitoe keras, berbareng mana iapoenja idoeng dan moeloet kadjoedjoe sambitan-sambitan kajoe tjapliong jang dilepasken begitoe roepa oleh itoe moesoeh, hingga Bo-tjay sabelon bisa rabah ba- dan moesochnja, lebih siang telah. . . . . . . mengabroek dan tengkoerep dalem keadaan satengah pangsan!
Mengetahoei bahoea sang „matjan” djato begitoe matjem, kawanannja Bo-tjay dengen berbareng menggoenaken golok, toja dan laen-laen sendjata saketemoenja, berame-rame menjerang lagi pada itoe tetamoe, siapa ternjata tida maoe meladenin lebih djaoch, hanja dengen sekali endjotan telah melesat ambil djalan dari djendela, mengilang dalem oedara gelap. . . . . . .