Halaman:Seri Pahlawan, Abdul Moeis; 1980.pdf/48

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi

PENDERITAAN ABDUL MOEIS SEMASA
PERANG KEMERDEKAAN

Selama masa pendudukan Jepang, nama Abdul Moeis tidak banyak terdengar. Tetapi ia masih tetap berusaha membela kepentingan rakyat kecil. Dalam masa itu ia bekerja sebagai pengacara.

Alangkah gembiranya hati Abdul Moeis ketika mendengar kabar, bahwa Indonesia sudah merdeka. Orang tua yang sudah berumur 62 tahun itu, melonjak kegirangan. Ia bersyukur kepada Tuhan. Cita-cita bangsanya sudah tercapai. Perjuangan mereka tidak sia-sia.

Semangat muda Abdul Moeis hidup kembali. Ia bertekad untuk menyumbangkan tenaganya untuk mengisi kemerdekaan.

Tetapi kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Negara yang baru berdiri itu menghadapi ancaman dari pihak lain. Belanda berusaha merebut Indonesia kembali. Maka perang pun tak dapat dihindarkan. Kalau pada masa yang lalu perjuangan ditujukan untuk memperoleh kemerdekaan, maka sekarang perjuangan ditujukan untuk mempertahankan kemerdekaan. Abdul Moeis membentuk Persatuan Perjuangan Priangan yang berkedudukan di Wanaraja. Melalui organisasi itu ia turut membantu perjuangan membela kemerdekaan.

Dalam tahun 1946 Abdul Moeis menerima

46