Halaman:Seri Pahlawan, Abdul Moeis; 1980.pdf/45

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi


yang sedang tidur. Sekali saya berjanji tidak akan meninggalkan Garut, janji itu akan tetap saya pegang teguh,” Kepala Polisi itu menjawab, ”Saya hanya menjalankan perintah atasan.” Pengawasan terhadap diri Abdul Moeis tetap dijalankan, walaupun tidak seketat dulu.

Sekalipun ia sudah berusaha hidup sebagai Petani, namun semangatnya belum padam. Sering ia teringat kepada kegiatan-kegiatan yang telah dilakukannya. Ia masih ingin menyumbangkan tenaganya untuk perjuangan bangsanya. Karena itu ia bekerja sebagai pemimpin surat kabar Mimbar Rakyat yang terbit di Garut. Melalui surat kabar itu dilampiaskannya rasa marahnya kepada Pemerintah Belanda. Karangan-karangannya sangat tajam mengeritik Pemerintah. Akibatnya Mimbar Rakyat tidak diizinkan terbit.

Pada suatu hari, seorang kenalan Abdul Moeis datang ke Garut. Ia adalah seorang orang Belanda yang bekerja di Jakarta. Temannya ini merasa kasihan melihat nasibnya. Ia mengusulkan supaya Abdul Moeis meminta ampun kepada Pemerintah Belanda. Usul itu ditolak dengan tegas. ”Kalau saya minta ampun, berarti saya berkhianat kepada bangsa saya,” katanya.

Bagi seorang politikus, hidup dalam pengasingan merupakan siksaan yang berat. Begitu juga halnya dengan Abdul Moeis. Dari Garut ia masih dapat mendengar apa-apa yang sedang terjadi di tanah

43