Halaman:Seri Pahlawan, Abdul Moeis; 1980.pdf/37

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi


ialah kaum kapitalis atau orang-orang asing. Kalau saja keuntungan itu diberikan kepada bangsa Indonesia, tentulah mereka akan menjadi makmur.

Tiba di tanah air, Abdul Moeis sudah penuh dengan cita-cita yang hendak dilaksanakannya. Ia akan berjuang lebih gigih lagi untuk membebaskan bangsanya dari penjajahan. Ia ingin agar hasil-hasil bumi Indonesia dinikmati oleh orang Indonesia sendiri.

Waktu itu di Indonesia semakin banyak tuntutan yang dilancarkan oleh kaum pergerakan. Budi Utomo, Sarekat Islam dan Insulinde menuntut supaya dibentuk parlemen yang dipilih oleh rakyat. Pemerintah membentuk hanya suatu dewan yang disebut Volksraad. Tetapi Volksraad itu tidak memuaskan hati kaum pergerakan. Abdul Moeis dan Tjokroaminoto (baca: Cokroaminoto) duduk dalam Volksraad sebagai wakil Sarekat Islam. Di situ mereka memperjuangkan kemerdekaan bagi Indonesia.

Volksraad itulah yang diminta supaya diganti dengan parlemen. Sebab Volksraad tidak sesuai dengan kehendak rakyat. Gubemur Jenderal Van Limburg Stirum berjanji akan mengadakan perubahan yang luas dalam bidang pemerintahan. Janji itu dikenal dengan nama November Belofte (Janji November). Tetapi janji itu tidak ditepati sepenuhnya. Sebaliknya, Pemerintah Belanda berlindak semakin keras. Pemimpin-pemimpin yang dianggap berbahaya, diawasi. Abdul Moeis dan beberapa pemimpin lainnya ditangkap.

35