Halaman:Seri Pahlawan, Abdul Moeis; 1980.pdf/20

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi


Keadaan dirinya itu disampaikannya kepada orang tuanya. Untunglah Haji Abdul Gani dan isterinya cukup bijaksana. Mereka tidak marah, sebab hal itu bukan karena kelalaian anaknya. Keadaan itu berada di luar kemampuan mereka. ”Manusia boleh berkehendak, tetapi Tuhan juga yang menentukan,” kata ayahnya menenangkan hati Abdul Moeis. Kedua orang tua itu menasehatkan agar Abdul Moeis tidak patah hati. ”Masih banyak lapangan lain yang dapat kau masuki. Janganlah patah semangat. Mungkin bukan suratan takdirmu menjadi dokter. Kami percaya bahwa di lapangan lain tentu engkau akan berhasil,” kata ayahnya selanjutnya.

Tetapi apakah yang akan dilakukan Moeis? Kalau ditilik asal usulnya, ia berasal dari daerah Sumatra Barat. Penduduk daerah itu terkenal sebagai orang yang suka berdagang. Tetapi Abdul Moeis tidak tertarik kepada bidang tersebut.

Akhirnya orang tuanya menasehatkan supaya ia bekerja sebagai pegawai. Untuk tidak mengecewakan hati mereka, Moeis bekerja pada Departemen Agama dan Kerajinan. Ternyata bekerja sebagai pegawai itu tidak menyenangkan hatinya. la bersekolah bukan untuk menjadi pegawai.

18