Halaman:Seri Pahlawan, Abdul Moeis; 1980.pdf/11

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi


Pendapatnya yang dianggapnya benar, akan dipertahankannya sebisa-bisanya. Kalau pendapatnya yang benar itu disalahkan orang, ia tidak segan-segan untuk berkelahi. Tetapi kalau karena berkelahi itu ia dihukum oleh ayahnya, hukuman itu diterimanya dengan tabah. Ia tidak mengeluh karena dihukum itu.

Di lingkungan anak-anak itu tentu ada satu atau dua orang yang agak nakal. Mereka sering mengganggu Abdul Moeis. Bila hal itu terjadi, tidak ayal lagi Abdul Moeis pasti akan melayangkan tinjunya kepada anak yang mengganggu itu. Perkelahian pun terjadi. Karena ia sering berkelahi, ayahnya menugaskan seorang ”opas” untuk mengawasinya.

Ia berani melakukan pekerjaan yang berbahaya. Tetapi keberanian itu hampir saja membawa malapetaka bagi dirinya. Pada suatu kali ia mengendarai ”kereta bugis”. Kereta itu dikemudikannya seorang diri. Ia tak mau membawa kusir. Abdul Moeis sangat bangga akan dirinya. Ia merasa sudah dewasa. Ia ingin memperlihatkan kepada teman-temannya, bahwa ia seorang yang berani.

Kuda yang menarik kereta itu dilecutnya berkali-kali. Akibatnya, kuda itu melarikan kereta sekencang-kencangnya. Abdul Moeis menjadi cemas. Ia tak dapat lagi mengendalikan keretanya. Hampir saja kereta itu masuk jurang. Hanya karena nasib baik, ia terhindar dari bahaya.

Ayahnya marah bukan main. Ia sangat sayang kepada Abdul Moeis. Kalau kereta itu rusak, dapat

9