rumah dan lepau nasi. Di belakang rumah-rumah itu mengalir sebuah sungai, Pasar itu diramaikan hanya sekali sepekan, yaitu tiap-tiap hari Jumat. Itu pun ramainya hanya hingga tengah hari saja. Oleh sebab itu, segala dangau-dangau diangkat orang. Tetapi dangau-dangau yang sebelah ke tepi pasar dibiar- kan tertegak. Gunanya ialah untuk orang musafir atau siapa saja yang suka bermalam di situ, atau untuk berlindung dari- pada panas akan melepaskan lelah dalam perjalanan dan lain- lain sebagainya. Lain. daripada hari Jumat, pasar itu diper- gunakan orang juga untuk bermain sepak raga, rapat negeri, dan lain-lain.
Ketika Midun kelihatan oleh beberapa orang muda di pasar itu, mereka itu pun datanglah mendapatkannya. Mereka itu semuanya amat bergirang hati melihat Midun. Begitu pula ketika ia bersalam dengan orang-orang tua yang duduk ber- kelompok-kelompok di situ, nyata terbayang pada muka orang- orang itu kesenangan hatinya.
Apakah sebabnya demikian? Memang Midun seorang muda yang sangat digemari orang di kampungnya. Budi pekertinya amat baik dan tertib sopan santun kepada siapa jua pun. Tertawanya manis, sedap di- dengar; tutur katanya lemah lembut. Ia gagah berani lagi baik hati, penyayang dan pengasih, jarang orang yang sebaik dia hatinya. Sabar dan tak lekas marah, serta tulus ikhlas dalam segala hal. Hati tetap dan kemauannya keras; apa yang di- maksudnya jika tidak sampai, belum ia bersenang hati. Adalah pula padanya suatu sifat yang baik, yakni barang siapa yang berdekatan atau bercampur dengan dia, tak dapat tiada senang hatinya, hilang sedih hati olehnya. Karena itu, tua muda, kecil besar di kampung itu kasih dan sayang kepada Midun. Hampir semua orang di kampungnya kenal akan dia. Sebab itu namanya tergantung di bibir orang banyak, dan budi pekertinya diambil orang jadi teladan.
Orang sudah banyak di pasar, di sana-sini kelihatan orang duduk berkelompok-kelompok. Orang yang akan menonton per- mainan sepak raga pun sudah banyak pula datang. Anak-anak sudah berlarian ke sana kemari, mencari tempat yang baik