yang dimegahkannya. Tentang tingkah laku dan perangai- nya tidak ada yang akan diharap. Memang dia kurang disukai orang di seluruh kampung ini."
"Sebab itulah, maka suram saja mukanya melihat hidangan di muka kita. Ketika ia melayangkan pemandangannya kepada saya, nyata benar terbayang pada muka Kacak kebenciannya.
Cemburu dan jijik agaknya dia kepada saya."
"Suka hatinyalah. Bukankah hal itu kemauan orang kampung. Apa pula yang menyakitkan hatinya kepadamu?"
"Benar katamu, suka hatinyalah. Tapi harus engkau ingat pula sebaliknya. Kita ini hanya orang kebanyakan saja, tapi dia orang bangsawan tinggi dan kemenakan raja kita di kampung ini. Tidakkah hal itu boleh mendatangkan bahaya?"
"Mendatangkan bahaya? Bahaya apa pulakah yang akan tiba karena itu? Segalanya akan menjadi pikiran kepadamu. Apa gunanya dihiraukan, sudahlah. Marilah kita pergi bersama- sama!"
"Patut juga kita pikirkan, mana yang rasanya boleh men- datangkan yang kurang baik kepada diri. Tetapi kalau engkau keras juga hendak membawa saya, baiklah."
"Ah, belum tumbuh sudah engkau siangi. Terlampau arif diri binasa, kurang arif badan celaka. Engkau rupanya terlalu arif benar dalam hal ini. Lekaslah, tidak lama lagi permainan akan dimulai orang."
Maka kelihatanlah dua orang sahabat berjalan menuju arah ke pasar di kampung itu. Midun ialah seorang muda yang baru berumur lebih kurang 20 tahun. Ia telah menjadi guru tua di surau. Pakaiannya yang bersih dan sederhana rupanya itu menunjukkan bahwa ia seorang yang suci dan baik hati. Parasnya baik, badannya kuat, bagus, dan sehat. Tiada lama berjalan mereka keduapun sampailah ke pasar. Didapatinya orang sudah banyak dan permainan sepak raga tidak lama lagi akan dimulai.
Adapun pasar di kampung itu terletak di tepi jalan besar. Pada seberang jalan di muka pasar, berderet beberapa buah