daerah lain, misalnya Sunda dan Melayu. Karya tersebut dapat digolongkan ke dalam beberapa jenis, antara lain, adalah sastra babad, roman, pewayangan, dongeng, piwulang, suluk, dan bacaan didaktis.
Sastra babad dalam bentuk tembang yang dihasilkan oleh pengarang angkatan masa transisi dapat dicatat, misalnya Tapel Adam (gubahan Kramadiwirja, 1859), Babad Bedhaipun ing Mangir (gubahan Sastrawinata, 1872), dan Babad Tanah Jawi I–II (gubahan Djajasoebrata, 1885, 1886, 1890); serta Babad Pajang yang terbit atas prakarsa Voorneman (1871), Babad Cirebon yang terbit atas prakarsa Brandes (1911), dan Nitik Keraton Surakarta kumpulan Padmasoesastra (1912). Sastra babad lainnya yang terbit pada masa transisi itu sebagian besar merupakan sastra klasik ciptaan pengarang angkatan sebelumnya. Misalnya, Babad Giyanti I--II karya Jasadipoera (yang terbit pada tahun 1885, 1886, 1888, 1892), Uluraning Leluhur Mangkoenegaran dan Babad Warni-Warni karya Mangkoenegara IV (yang masing-masing terbit pada tahun 1874 dan 1898); serta karya-karya anonim, seperti Babad Kartasura (1872), Babad Mataram (1872), Babad Pacina (1874), Babad Tanah Jawi (1885), Babad Pasanggrahan (1893), Babad Dipanegara (1895), Babad Pasir (1898), dan Babad Panambangan (1918). Selain itu, ada karya saduran atau terjemahan yang bersumber sejarah. Karya itu adalah Perang ing Nagari Nederland saduran C.F. Winter (1879) dari bahasa Belanda.
Karya dalam bentuk tembang yang berupa roman (termasuk roman sejarah) ada beberapa. Karya roman yang diciptakan pada masa transisi, antara lain, adalah Endrajaya (Astranagara, 1868), Panji Sekar (Partakoesoema, 1877), Sri Gandana (Soerjowidjaja, 1883), serta Serat Menak dan Pranacitra yang diterbitkan oleh
40