Lompat ke isi

Halaman:Sastra Jawa Masa Transisi 1840-1917.pdf/40

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

karya tradisional. Maksudnya, pada masa tersebut selain masih bermunculan karya yang menggunakan konvensi tradisional (tembang macapat), juga banyak karya yang bersumberkan atau merupakan saduran karya-karya tradisional, seperti cerita wayang, babad, dan cerita rakyat (lihat subbab 2.1 dan 3.1). Bahkan, pada kurun waktu tersebut muncul pula karya asing yang disadur ke dalam bentuk macapat, misalnya Serat Sewu Satunggal Dalu (Winter, 1847), Sultan Ibrahim (Winter, 1881) dari bahasa Arab, dan Johar Manik (Djajasoebrata, 1886) dari bahasa Parisi. Hal itu menunjukkan bahwa karya-karya tradisional masih lekat di hati masyarakat Jawa. Dengan demikian, dari segi bentuk, karya-karya yang terbit pada masa transisi dapat dibedakan menjadi dua, yakni prosa dan puisi; sedangkan dari segi jenis, dapat dibedakan menjadi beberapa, seperti diuraikan berikut ini (subbab 3.1). Selain jenis karya sastra, yang dibicarakan dalam bab ini adalah beberapa karya penting, perkembangan bahasa, dan perkembangan tema.

3.1 Jenis Karya Sastra

Telah disebutkan bahwa karya sastra Jawa yang terbit pada masa transisi berbentuk prosa dan puisi. Kedua bentuk itu masing-masing mempunyai jenis yang hampir sama. Misalnya, dalam kedua bentuk itu terdapat jenis sastra pewayangan, babad, roman (sejarah), sastra didaktis, dan cerita rakyat.

Pada masa transisi juga terbit karya primbon, angger 'undang-undang', kitab suci, almanak, ilmu pengetahuan, dan sebagainya yang sering digolongkan sebagai karya sastra. Penggolongan itu berdasarkan pengertian secara umum bahwa semua karya tulis adalah karya sastra (lihat Ali, 1991:882). Pengertian itu mempunyai cakupan yang amat luas sehingga muncul istilah yang lebih khusus, yaitu karya susastra. Karya susastra adalah karya

32