Lompat ke isi

Halaman:Sastra Jawa Masa Transisi 1840-1917.pdf/33

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

sekolah-sekolah untuk pribumi. Keadaan pembaca dan suasana pembacaan kala itu berbeda dengan yang terjadi sebelumnya. Pada masa sebelumnya, pembaca dihadapkan pada naskah-naskah (manuskrip) dalam bentuk tembang sehingga perlu improvisasi dengan mendendang apabila ingin mengetahui dan menikmati isinya. Suasana dan keadaan seperti itu berlangsung sejak terciptanya kakawin (Jawa kuna) hingga maraknya karya sastra dalam bentuk tembang macapat yang biasa disebut sastra klasik. Perjalanan yang amat panjang dan tampak mapan itu menyebabkan sulitnya mengubah sikap para pembaca ketika dihadapkan pada karya sastra baru dalam bentuk prosa (yang bergenre Barat). Mereka beranggapan bahwa karya sastra yang adi luhung 'indah dan anggun' adalah karya sastra yang digubah dalam bentuk tembang dengan penuh muatan ajaran moral. Oleh karena itu, pada permulaan munculnya karya sastra (yang bergenre baru) dalam bentuk prosa pada abad ke-19, mereka mengabaikannya. Hal itu wajar karena genre-genre baru tersebut didatangkan dari Barat ketika masyarakat Jawa belum siap menerimanya dan belum merasa membutuhkannya (Ras, 1985:8). Di samping itu, karya sastra dalam bentuk prosa yang ditulis semata-mata hanya untuk hiburan saja tampak belum disenangi sehingga masih harus menempuh jalan panjang (Ras, 1985:10) untuk dapat diterima oleh masyarakat Jawa. Dengan demikian, tampak bahwa para pembaca karya sastra dengan genre baru itu pada awalnya masih amat terbatas. Untuk menarik pembaca, kemudahan memperoleh bahan bacaan diperlukan dengan cara mencetak karya-karya tersebut dan menyebarluaskannya melalui lembaga-lembaga pendidikan, misalnya di sekolah-sekolah.

Ketika Instituut voor de Javaansche Taal 'Lembaga Bahasa Jawa' didirikan pada tahun 1832, kebutuhan akan bahan

25