Lompat ke isi

Halaman:Sastra Jawa Masa Transisi 1840-1917.pdf/28

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

(Serat Cariyosipun Jaka Joharnis, 1916), dan R. Suradi Dirdjasoebrata (Gara-Gara, 1912).

Dalam kurun waktu yang sama masih ada beberapa pengarang yang menulis kisah perjalanan. Mereka itu, antara lain, adalah Prawirasoedirdja (Cariyos Tanah Pareden Diyeng, 1912), R.M.A. Soerjasoeparta (Kekesahan saking Tanah Jawi dhateng Nagari Walandi, 1916), dan R.A.A. Reksakoesoema (Cariyosipun Benawi Sala, 1916). Pengarang lain yang namanya tidak diketahui (anonim) yang tulisannya diterbitkan antara tahun 1900 dan 1917, juga masih ada. Karya-karya anonim yang terbit pada kurun waktu tersebut, antara lain, adalah Petruk dados Ratu (1906, 1914), Serat Cariyosipun Ulam Kutuk Ngrabeni Tiyang Estri (1914), dan Senggutru (1915).

2.2 Sistem Penerbit

Maraknya para pengarang dalam kurun waktu antara tahun 1840 dan 1917 erat kaitannya dengan kebutuhan bahan bacaan. Sejak Instituut voor de Javaansche Taal "Lembaga Bahasa Jawa" mengadakan aktivitasnya selama 11 tahun (1832--1843), buku-buku bahan bacaan berbahasa Jawa yang dipakai sebagai bahan ajar beberapa di antaranya kemudian diterbitkan di Negeri Belanda, misalnya di kota Amsterdam. Buku-buku yang diterbitkan di Amsterdam, antara lain, adalah buku-buku prosa karangan C.F. Winter dan Ranggawarsita, misalnya Javaansche Zamensoraken 'Percakapan Bahasa Jawa' jilid I (1848) dan jilid II (1858) serta Gancaran Serat Bratayuda, Rama, turun Arjunasasrabau (1845) saduran C.F. Winter. Buku-buku C.F. Winter ada juga yang diterbitkan di Batavia atau Betawi, misalnya Dongeng Isi Wewulang Becik (1849) dan Darma Wasita (1855).

20