itu, orientasi penerbitan lebih ditekankan pada buku-buku berbahasa Melayu (Damono, 1993:19 dan 20) sehingga penerbitan buku-buku berbahasa daerah yang lain lebih selektif. Dengan kondisi yang demikian, pembicaraan penelitian sastra Jawa masa transisi ini dibatasi antara tahun 1940-1917. Pembatasan dalam rentang waktu (antara 1940-1917) itu dilandasi anggapan bahwa prosa pertama yang bergenre Barat, yakni Leesboek voor de Javanen susunan Gericke terbit pada tahun 1841 di Haarlem, dan sejak tahun 1917 terjadi perubahan kebijakan dalam bidang penerbitan oleh pemerintah kolonial Belanda. Di samping itu, dalam kerangka penyusunan sejarah sastra Jawa, ada penelitian tersendiri yang sasarannya karya-karya Balai Pustaka dan non-Balai Pustaka sampai dengan menjelang zaman Jepang.
Sementara itu, berkenaan dengan penelitian sastra Jawa masa transisi 1840--1917, ada beberapa tulisan dan penelitian tentang sastra Jawa periode tersebut. Misalnya, dalam Javaansche Bibliographie 'Bibliografi Bahasa Jawa' jilid I dan II (Poerwasoewignja dan Wirawangsa, 1920) disajikan informasi secara singkat buku-buku koleksi Museum Nasional terbitan tahun 1841--1920. Selanjutnya, dalam Telaah Kesusastraan Jawa Modern (Hutomo, 1975), Javanese Literature Since Independence atau Bunga Rampai Sastra Jawa Mutakhir (Ras, 1979; 1985), The Novel in Javanese atau Novel Berbahasa Jawa (Quinn, 1984; 1995), dan Novel Jawa Tahun 1950-an (Damono, 1993) disinggung-singgung tentang sastra Jawa modern pada awal pertumbuhannya. Sementara itu, dalam Sastra Jawa Periode Abad XIX--Tahun 1920 (Pardi dkk., 1996) disuguhkan telaah struktural karya-karya pada periode tersebut. Dengan demikian, penelitian-penelitian yang mempunyai orientasi yang berbeda dengan tulisan dan penelitian di atas masih terbuka untuk dilaku-
6