Lompat ke isi

Halaman:Sastra Jawa Masa Transisi 1840-1917.pdf/13

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

abad ke-19—awal abad ke-20, yakni masa awal terjadinya pengaruh Barat. Dikemukakan oleh Robson (1978:4 dan 9) bahwa pengaruh Barat itu betul-betul mulai terasa di Pulau Jawa sesudah Perang Jawa (Perang Diponegoro), 1830. Pengaruh Barat itu tampak lebih konkret dengan didirikannya Institut voor de Javaansche Taal ‘Lembaga Bahasa Jawa’ pada tahun 1832 untuk mendidik calon juru bahasa Jawa oleh pemerintah kolonial Belanda. C.F. Winter, salah seorang guru di lembaga tersebut, kemudian menyusun teks Gancaran Serat Bratayuda, Rama, tuwin Arjunasasrabau dalam bentuk prosa sebagai bahan ajar. Teks tersebut kemudian diterbitkan pada tahun 1845 di Amsterdam.

Bahan-bahan bacaan berbahasa Jawa dari waktu ke waktu terus bertambah seiring dengan didirikannya sekolah-sekolah untuk masyarakat pribumi sehingga menjelang tahun 1900, pengaruh Barat telah memasuki masyarakat sampai ke pedesaan (Niel, 1984:34). Dalam Kasoesastran Djawi jilid I (Anonim, 1946:101), misalnya, disebutkan bahwa sejak akhir abad ke-19, sastra Jawa, di antaranya, terpengaruh sastra Barat. Sifat sastra Jawa ada yang berubah, bergaya Barat. Agar bahan bacaan pada masa transisi tersebut tetap terkondisi sesuai dengan keinginan pemerintah, pada tahun 1908 didirikan Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur 'Komisi Bacaan Sekolah dan Bacaan Rakyat'. Tugas komisi itu menyediakan bacaan ringan untuk meningkatkan kualitas membaca lulusan sekolah rendah. Beberapa tahun kemudian, ketika banyak pekerjaan yang tidak dapat diselesaikan, tugas komisi tersebut diserahkan kepada Kantoor voor de Volkslectuur 'Kantor Bacaan Rakyat' yang kemudian menjelma menjadi Balai Pustaka (Damono, 1993:19; bandingkan Hutomo, 1975:9). Sejak diresmikannya pada tahun 1917, Balai Pustaka mengambil kebijakan yang (agak) berbeda dengan penerbit sebelumnya.

5