Belanda mendatangkan sejumlah besar pasukannya (dari Eropa) dan menggalang pasukan pribumi (Soeroto, 1982:225--229) untuk menumpas perlawanan-perlawanan tersebut. Banyak alasan yang menyebabkan timbulnya perlawanan-perlawanan itu, misalnya pungutan pajak yang terlalu tinggi, diskriminasi agama, dan penggusuran daerah para bangsawan (Soeroto, 1982:217--224; bandingkan Kartodirdjo, 1992:12). Dalam kaitannya dengan pengiriman bala bantuan dan para perwira dari Eropa itu, pemerintah kolonial mendirikan lembaga (pendidikan) untuk mempersiapkan pengetahuan bahasa dan budaya mereka sebelum terjun ke lapangan. Pusat pendidikan tersebut berada di Breda dan Delft (Belanda).
Pada pihak lain, untuk memenuhi kebutuhan juru bahasa Jawa bagi pemerintah kolonial Belanda, pada tahun 1832 didirikan Instituut voor de Javaansche Taal 'Lembaga Bahasa Jawa' di Surakarta. C.F. Winter, salah seorang guru di lembaga tersebut, segera menyiapkan bentuk prosa sebagai bahan bacaan yang diangkat dari naskah-naskah klasik berbentuk tembang. Setelah dipandang tidak mencapai target yang diharapkan, pada tahun 1843 lembaga itu ditutup, dan kemudian dipindahkan ke Delft (Winter, 1928:vi). Secara resmi, Lembaga Bahasa Jawa di Delft berdiri pada tahun 1842 dan di Breda pada tahun 1836 (Quinn, 1995:2). Di Delft, Roorda diserahi tugas sebagai guru bahasa Jawa.
Kehadiran lembaga kolonial tersebut di atas, memberikan beberapa dampak yang besar terhadap sastra Jawa. Pertama adalah bahwa lembaga tersebut merangsang penulisan jenis prosa baru yang terlepas dari tradisi klasik, seperti munculnya model kisah perjalanan yang bergaya jurnalistik dan bentuk biografi. Kedua adalah munculnya kelompok pribumi, seperti R.Ng. Ranggawarsita dan Ki Padmasoesaastra, yang dekat dengan ilmuwan dan jajaran
2