,RUMAH-SETAN” Agr Pada itu malem keadahan hawa udara ada
sanget buruk. Rupa-rupanja sadja Dewi Pluvius
aken sigra turun ; diatas tjakrawala, ada tertutup dengen gulungan mega-mega hitem jang tebel,
serta bintang-bintang sama sekali ta’ tertampak.
Disekiternja Honan road keadahan suda mendjadi
sepith. Tida ada sebidji menusiapun, ada tertam- pak didjalan’ besar. Suaranja ombak laut, jang mendampar pada pinggiran pantai ada » kede- ngeran njata sekali, seolah-olah, suaranja tukang musik jang lagi sedeng memukul tambur. Dari djurusan utara angin santer mulain meniup, serta suaranja guntur jang berbunji, dan kilat jang bersledetan diatas udara, ada menambahken. ke- sunjiannja malem itu. Lapat-lapat dari kedjauhan, kedengeran suara andjing jane menggongong.....
Sesudanja menguntji pintu, Hung Wen dan Yu Lan berdiam’ terus dalem marika punja ka- mar tulis. Ta dapetken bahua paras istrinja itu, ada sedikit putjet, satu tanda bahua hatinja itu wanita muda ada merasa kesepian dan’ kwatir. Tetapi Hung Wen menghiburin pada ‘istrinja, dengen mengadjak padanja buat ,,mengadu otak”
diatas papan tjatur. Sésudanja bermaen dua set,
Yu Lan lalu menguap. ,,Djikalu kau merasa me- ngantuk lebi baek kau pergi tidur sadja. Biarin aku duduk disini buat menunggu kombalinja Dr. _ Chang.”
Sa LIAcz ay. aku belon merasa mengantuk, Te- tapi aku tida tau kenapa bolenja hatiku ini ber- _ debaran tida keruan rasanja.”
— 4Barangkali djuga kaw punja zenuw ada sedikit _terganggu. Maka itu, lebi baek kau telen dua butir obat ‘tidur guna menentramken kau punja pikiran.”’