| (Zainul Baharuddin.)
Dengan ukuran-ukuran, kriteria apakah „Commissie Screening” itu akan diperlengkapi? Dari manakah sarat-sarat perpegangan harus diambil dan untuk maksud ataupun planning manakah ia diadakan? Tidak saja lihat satu kemungkinan, bahasa ukuran-ukuran ataupun kriteria-kriteria tadi itu, akan didapati dengan mendistileernja dari satu planning jang berpusat pada suatu sistim pertahanan jang sudah mendjadi putusan kita bersama. Sebagai jang saja uraikan diatas, maka sudahlah pula djelas, bahasa antara Pendjabat-pendjabat Kementerian Pertahanan dengan kita belum lagi putus, bahasa sistim Pertahanan kita ialah „Pertahanan Rakjat Totaal”. Dan tidaklah mungkin rasanja menentukan kriteria tadi itu, bila tidak menentukan mana tudjuannja. Tjontoh jang frappant, ialah peringatan Saudara Subadio, supaja kriteria djiwa kerakjatan, ketjintaan kepada tanah air, supaja diperhatikan oleh Pemerintah. Seruan ini diterima oleh Pemerintah dengan:
Walampun saja menjetudjui sepenuhnja saran jang dimadjukan Saudara Subadio, maka djawaban ini membuktikan lagi bahasa kriteria jang dimaksudkan itu, jang disebutkan oleh Pemerintah „integriteit didalam Angkatan Perang”, diambil dari udara sadja, kalau tidak dikatakan disetudjui dengan setjara „willekeurig” sadja, karena tidak ada pokok- dasarnja. Kenapa mesti berdjiwa kerakjatan? Kenapa mesti tjinta tanah air? Althans belum ada pokok-dasarnja. Selandjutnja:
Hingga dimanakah batas „terlalu mementingkan” itu? Tidakkah dapat kita menentukan kriterium intelek, bila tidak ditetapkan lebih dahulu, untuk kepentingan apa intelek itu harus dipakai dan dalam hubungan pertahanan apa? |
1129