(Hindrosudarmo.)
Begitu djuga hasilnja pemilihan umum jang sekarang ini dimana disediakan uang berpuluh-puluh djuta dan makan tenaga beserta fikiran berdjuta-djuta rakjat, saja kira hasilnja nanti tetap tiada akan membawa kepuasan, baik bagi rakjat umum dan partai-partai, maupun bagi Pemerintah, sebab kesedaran politik rakjat masih djauh. Ketjuali kalau Pemerintah hanja mempunjai satu pegangan jang teguh dengan memakai istilah: apa boleh buat.
Dan kalau betul demikian, kita bisa buktikan nanti.
- Mereka jang berdjiwa patriot dengan kesadaran nasional.
Karena kalau tentara, baik jang aktip pegang sendjata maupun jang hanja pegang administrasi dapur, kalau tidak berdjiwa patriot dan tidak mempunjai kesadaran nasional, saja kira nanti hasilnja akan memalukan sadja.
Buat kejakinan saja sesungguhnja jang harus berdjiwa patriot itu tidak hanja para tentara sadja, tetapi para pemimpin dan terutama pemimpin negara. Tetapi ternjata dewasa ini djiwa patriot jang dimiliki Kabinet Wilopo sudah kabur dan kebidjaksanaan Kabinet Wilopo sudah agak remeng-remeng.
Ini dapat saja buktikan, Saudara Ketua, ialah:
- Dengan adanja tindakan segerombolan orang jang berupa actie dan demonstratie tanggal 17 Oktober 1952. Pemerintah sudah tergetar politik beleidnja (sekalipun tindakan itu sudah ditolak Kepala Negara dan Panglima tertinggi Republik Indonesia), tetapi toch Pemerintah tetap masih gugup menghadapi actie itu sehingga mereka jang dikatakan orang kuat tidak lagi nampak udjudnja sebagai orang kuat.
- Kebidjaksanaan Pemerintah sudah remeng-remeng, itu ternjata karena Pemerintah tidak berani dimuka Parlemen — sewaktu menerangkan persoalan itu pada minggu jang lalu — menjatakan actie 17 Oktober 1952 itu adalah coup atau tidak. Untuk sikap lebih landjut, Pemerintah hanja menjerahkan pada Djaksa Agung. Djadi kalau Djaksa Agung berkata tidak coup, ja tidak coup. Dan kalau Djaksa Agung
687