SEDIKIT SEDJARAH
Sampai pada tahun 1850 Rusia termasuk negara jang paling terbelakang di Eropah. Peter Agung (1698 — 1725) memang sangat berusaha memadjukan pendidikan umum, akan tetapi kalau ditindjau setjara menjeluruh, usahanja itu tidaklah berhasil.
Dalam tahun 1860 dengan mulai terasanja kegelisahan rakjat dan antjaman suatu repolusi, maka pemerintah Tsar mulailah dengan beberapa perubahan dilapangan sosial. Perbudakan dihapuskan, suatu desentralisasi dimulai pula dengan mendirikan dewan-dewan kota dan dewan daerah, jang diberi hak mendirikan sekolah umum.
Dengan demikian makin banjaklah sekolah-sekolah rendah jang didirikan ditempat-tempat jang terpentjil didaerah pedesaan. Djumlah sekolah menengahpun makin besar, sedang seminar-seminar dibuka pula untuk mendidik tjalon-tjalon guru sekolah rendah.
Di Petersburg didirikan suatu institut sedjarah dan filologi untuk mendidik guru-guru sekolah landjutan. Akan tetapi perhatian pada pendidikan umum itu tidak lama. Sesudah masa pembaruan dalam tahun 1860, Pemerintah berubah haluan dan sekolah-sekolah jang didirikan oleh dewan-dewan daerah lalu terbengkalai, sedang sekolah-sekolah jang dibawah asuhan Geredja Ortodoks mendapat perhatian jang lebih besar. Sekolah-sekolah paroki itu hanja memberi peladjaran 3 tahun, dan mutunjapun tidak setinggi sekolah jang mulai didirikan dewan-dewan daerah. Dalam tahun 1880 dan 1890-an malahan diadakan usaha menggantikan sekolah-sekolah dewan daerah dengan sekolah paroki dan pada permulaan abad ke-20 djumlah sekolah paroki sudah merupakan 46,5% dari semua sekolah rendah.
Sifat sekolah-sekolah pada masa itu sangat nasional-sempit. Jang diadjarkan adalah bahasa Rusia sadja, sedang didaerah-daerahpun pemakaian bahasa daerah sangat terbatas.
Sekolah menengah setjara teori terbuka bagi semua anak, tanpa pembedaan kelas, kebangsaan, agama dan kekajaan. Dalam prakteknja, 50% murid-murid sekolah landjutan adalah dari keluarga-keluarga tuan-tanah, meskipun golongan ini hanja merupakan 2% dari penghuni Rusia. Dikalangan pemerintahan masih dianut pendapat bahwa kalau anak rakjat djelata diberi pendidikan, maka mereka akan tidak sabar lagi melihat nasibnja sendiri.
80% dari anak-anak berumur antara 5 dan 20 tahun tidak masuk sekolah sama sekali dan menurut sensus tahun 1897 dari penduduk berumur antara 9 dan 49 tahun hanja 26,3% jang melekhuruf. Terutama suku-suku bangsa didaerah pinggiran hampir 100% butahuruf. 1
189