sedang Historis-Materialisme memberi djawaban atas soal sebab apakah fikiran itu dalam suatu zaman ada begitu atau begini: wijsgerig-materialisme menanjakan adanja (wezen) fikiran itu: historis-materialisme menanjakan sebab-sebabnja fikiran itu berobah: wijsgerig-materialisme mentjari asalnja fikiran, historis-materialisme mempeladjari tumbuhnja fikiran wijsgerig-materialisme adalah wijsgerig, historis-materialisme adalah historis.
Dua faham ini oleh musuh-musuhnja Marxisme di Eropah, terutama kaum geredja, senantiasa ditukar-tukarkan, dan senantiasa dikelirukan satu sama lain. Dalam propagandaaja anti-Marxisme mereka tak berhenti-henti mengusahakan kekeliruan faham itu; tak berhenti-henti mereka menuduh-nuduh, bahwa kaum. Marxisme itu jalah kaum jang mempeladjarkan, bahwa fikiran itu hanjalah suatu pengeluaran sahadja dari otak, sebagai ludah dari mulut dan sebagai empedu dari limpa; tak berhenti-henti mereka menamakan kaum Marxis suatu kaum jang menjembah benda, suatu kaum jang bertuhankan materi.
Itulah asalnja kebentjian kaum Marxis Eropah terhadap kaum geredja. asalnja sikap perlawanan kaum Marxis Eropah terhadap kaum agama. Dan perlawanan ini bertambah sengitnja, bertambah kebentjiannja, dimana kaum geredja itu memakai-makai agamanja untuk melindung-lindungi kapitalisme, memakai-makai agamanja untuk membela keperluan kaum atasan, memakai-makai agamanja untuk mendjalankan politik jang reaksioner sekali.
Adapun kebentjian pada kaum agama jang timbulnja dari sikap kaum geredja jang reaksioner itu, sudah didjatuhkan pula oleh kaum Marxis kepada kaum agama Islam, jang berlainan sekali sikapnja dan berlainan sekali sifatnja dengan kaum geredja di Eropah itu. Disini agama Islam adalah agama kaum jang tak merdeka: disini agama Islam adalah agama kaum jang di-„bawah”. Sedang kaum jang memeluk agama Keristen adalah kaum jang bebas; disana agama Keristen adalah agama kaum jang di-„atas”. Tak boleh tidak, suatu agama jang anti-kapitalisme, agama kaum jang tak merdeka, agama kaum jang di-„bawah” ini; agama jang menjuruh mentjari kebebasan, agama jang melarang mendjadi kaum „bawahan”, — agama jang demikian itu