negerinja, dan pula oleh kekurangan bekal, belum banjak jang nekat meninggalkan Indonesia, untuk mentjari kerdja dilain-lain negeri, dengan iktikad: „ubi bene, ibi patria: dimana aturan-kerdja bagus, disitulah tanah-air saja”. — sebagai kaum buruh di Eropah jang mendjadi tidak tetap-rumah dan tidak tetap tanah-air oleh karenanja.
Dan djikalau ingat akan hal-hal ini semuaaja, maka mereka nistjaja ingat pula akan salahnja memerangi pergerakan bangsanja jang nasionalistis adanja. Nistjaja mereka ingat pula akan teladan-teladan pemimpin-pemimpin Marxis dilain-lain negeri, jang sama bekerdja bersama-sama dengan kaum-kaum nasionalis atau kebangsaan. Nistjaja mereka ingat pula akan teladan pemimpin-pemimpin Marxis dinegeri Tiongkok, jang dengan ridla hati sama menjokong usahanja kaum Nasionalis, oleh sebab mereka insjaf bahwa negeri Tiongkok itu pertama-tama butuh persatuan nasional dan kemerdekaan nasional adanja.
Demikian pula, tak pantaslah kaum Marxis itu bermusuhan dan berbentusan dengan pergerakan Islam jang sungguh-sungguh. Tak pantas mereka memerangi pergerakan, jang, sebagaimana sudah kita uraikan diatas, dengan seterang-terangnja bersikap anti-kapitalisme: tak pantas mereka memerangi suatu pergerakan jang dengan sikapnja anti-riba dan anti-bunga dengan seterang-terangnja jalah anti-meerwaarde pula; dan tak pantas mereka memerangi suatu pergerakan jang dengan seterang-terangnja mengedjar kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan, dengan seterang-terangnja mengedjar nationale autonomie. Tak pantas mereka bersikap demikian itu, oleh karena taktik Marxisme-baru terhadap agama adalah berlainan dengan taktik Marxisme-dulu. Marxisme-baru adalah berlainan dengan Marxisme dari tahun 1847, jang dalam „Manifes Komunis” mengatakan, bahwa agama itu harus di-„abschaffen” atau dilepaskan adanja.
Kita harus membedakan Historis-Materialisme itu dari pada Wijsgerig-Materialisme; kita harus memperingatkan, bahwa maksudnja Historis-Materialisme itu berlainan dari pada maksudnja Wijsgerig-Materialisme tahadi. Wijsgerig-Materialisme memberi djawaban atas pertanjaan: bagaimanakah hubungannja antara fikiran (denken) dengan benda (materie), bagaimanakah fikiran itu terdjadi,