belum ada kaum proletar dalam arti sebagai di Eropah atau Amerika itu, pergerakannja harus diobah sifatnja menurut pergaulan-hidup di Asia itu pula. Mereka mengerti, bahwa pergerakan Marxistis di Asia haruslah berlainan taktik dengan pergerakan Marxis di Eropah atau Asia, dan haruslah „bekerdja bersama-sama dengan partai-partai jang „klein burgerlijk”, oleh karena disini jang pertama-tama perlu bukan kekuasaan tetapi jalah perlawanan terhadap pada feodalisme”.
Supaja kaum buruh dinegeri-negeri Asia dengan leluasa bisa mendjalankan pergerakan jang sosialistis sesungguh-sungguhnja, maka perlu sekali negeri-negeri itu merdeka, perlu sekali kaum itu mempunjai nationale autonomie (otonomi nasional). „Nationale autonomie adalah suatu tudjuan jang harus ditudju oleh perdjoangan proletar, oleh karena ia ada suatu upaja jang perlu sekali bagi politiknja”, begitulah Otto Bauer berkata. Itulah sebabnja, maka otonomi nasional ini mendjadi suatu hal jang pertama-tama harus diusahakan oleh pergerakan-pergerakan buruh di Asia itu. Itulah sebabnja, maka kaum buruh di Asia itu wadjib bekerdja bersama-sama dan menjokong segala pergerakan jang merebut otonomi nasional itu djuga, dengan tidak menghitung-hitung, azas apakah pergerakan-pergerakan itu mempunjainja. Itulah sebabnja, maka pergerakan Marxisme di Indonesia ini harus pula menjokong pergerakan-pergerakan kita jang Nasionalistis dan Islamistis jang mengambil otonomi itu sebagai maksudnja pula.
Kaum Marxis harus ingat, bahwa pergerakannja itu, tak boleh tidak, pastilah menumbuhkan rasa Nasionalisme dihati-sanubari kaum buruh Indonesia, oleh karena modal di Indonesia itu kebanjakannja jalah modal asing, dan oleh karena budi perlawanan itu menumbuhkan suatu rasa tak senang dalam sanubari kaum-buruhnja rakjat di-„bawah” terhadap pada rakjat jang di-„atas”-nja, dan menumbuhkan suatu keinginan pada nationale machtspolitiek dari rakjat sendiri. Mereka harus ingat, bahwa rasa-internasionalisme itu di Indonesia nistjaja tidak begitu tebal sebagai di Eropah, oleh karena kaum buruh di Indonesia ini menerima faham internasionalisme itu pertama-tama jalah sebagai taktik, dan oleh karena bangsa Indonesia itu oleh „gehechtheid” pada