Halaman:Mimbar Indonesia Vol 31-32.pdf/6

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini telah diuji baca

MIMBAR Indonesia No. 31-32

7 AGUSTUS 1948

TAHUN II

H. S. ADAM BACHTIAR

IDULFITRI atau LEBARAN

A

LLAHU AKBAR! Allahu Akbar! Allahu Akbar! La ilaha illallahu Allahu Akbar! Allahu Akbar! Walillahilhamd!

Gemuruh suara dari berdjuta-djuta ummat Islam diatas dunia pada tanggal 1 Sjawwal menjeru Tuhan Jang Maha Besar dengan kejakinan, bahwa tidak ada Tuhan jang lain, melainkan Allah Jang Maha Besar. Bahwa sekalian pudjian kembali kepadaNja! Bahwa tidak ada kasih jang lebih dalam, melainkan kasihNjalah! Bahwa tidak ada kuasa jang lebih tinggi diseluruh ’alam, melainkan kuasaNjalah.

Kekuasaan jang tertinggi hanja ada dalam tangan Tuhan Jang Maha Esa! Hal ini patut diingat-ingat oleh mereka jang selalu menggembor-gemborkan kekuasaannja; oleh mereka jang selalu hendak memperlihatkan, bahwa mereka dapat berbuat sekehendaknja, dapat berbuat sewenang-wenang dengan kekuasaannja itu! Lupa mereka, bahwa mereka sebagai machluk, hanja ibarat debu didalam ’alam jang meliputi bumi, matahari, bulan dan bintang-bintang jang didjadikan oleh Tuhan Jang Maha Kuasa. Sekalian ummat jang pertjaja kepada Tuhan Jang Maha Esa, jakin, bahwa mereka jang melupakan adanja kekuasaan jang tertinggi itu, pada suatu ketika akan merasai kekuasaan Tuhan itu dan akan binasalah mereka itu dengan tidak ada jang akan dapat melepaskan mereka dari pembinasaan itu, berapa djuga besar tentaranja dan berapa djuga lengkap sendjatanja.

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! La ilaha illallahu Allahu Akbar! Allahu Akbar! Walillahilhamd!

Sedjarah Dunia membuktikan, apa djadinja mereka jang membanggakan kekuasaannja, seolah-olah tidak ada lagi kekuasaan jang lebih tinggi dari kekuasaannja. Ingatlah riwajat Radja Fir'aun (Pharao Ramses II) jang tak putus-putusnja menindas bangsa Jahudi di Mesir dizaman Purbakala. Oleh karena bangsa Jahudi di Mesir dalam zaman kuno itu diperlakukan sebagai budak dan Radja Fir'aun itu menganggap dirinja sebagai Tuhan jang menguasai segala-galanja, dan dapat berbuat sewenang-wenang terhadap manusia manapun djuga, maka tidaklah sedikit penderitaan jang dialami oleh bangsa Jahudi itu. Oleh karena mu'djizat jang dipertundjukkan oleh Nabi Musa kepada Radja Fir'aun itu, dapatlah bangsa Jahudi itu izin untuk meninggalkan Mesir dengan melalui Laut Merah. Kemudian Radja Fir'aun itu menjesal atas izin jang diberikannja kepada bangsa Jahudi itu. Dikumpulkannja tentaranja jang banjak, lengkap dengan sendjatanja semuanja untuk mengedjar bangsa Jahudi itu dan membawa mereka sebagai budak jang dapat ditindas, kembali ke Mesir. Nabi Musa dengan ummatnja telah sampai ketepi pantai Laut Merah. Melihat dari djauh datangnja Fir'aun dengan tentaranja, kaum Jahudi merasa dirinja terkepung; kedepan tak dapat berdjalan terus oleh karena air laut menghambat djalan; kembali kepadang pasir untuk melarikan diri tak

Menara Kaljan di Buchara, didirikan diabad ke 13.

3