orang djahat........ sebagimana akoe bermoela pikir........” ia berkata pada diri sendiri.
Dari paras moekanja itoe anak gadis ada terliat satoe sinaran jang terang dan perasa'an bertrima kasih.
„Apa apa akoe bisa taoe nona poenja nama!” berkata itoe pemoeda dengen sangsi-sangsi.
„Akoe poenja nama ada Kong A-moay dan dateng dari Hongkong baroesan 2 hari ini. Akoe poenja ajah ada bekas ambtenaar pengadean di Kowloon jang sekarang soedah dapet pensioen. Disini orang soedah panggil akoe sebagi satoe 'Macao-po', maskipoen akoe berkali-kali kasihken ketrangan jang akoe boekan prempoean dari itoe poelo.
„Trima kasih, nona, dan ini ada akoe poenja nama............” ia laloe serahken satoe kaartjes nama pada itoe prempoean di atas mana ada tertjatet: 'So King-san' serta di itoe kaartjes djoega ada terdapet adresnja itoe pemoeda.
„Akoe kepingin sekali bisa toelis soerat pada akoe poenja orang toea, tapi di sini akoe tida bisa dapet tinta dan pen serta kertas boeat itoe. Akoe poenja iboe-bapa tentoe lama sekali menoenggoe-noenggoe pada soeratkoe.”
„O, kaloe kaoe ingin menoelis pada orang toeamoe, pakelah ini vulpen dan akoe poen ada sedia kartoe post. Toelislah sekarang, agar akoe bisa kirimken itoe pada besok paginja.” King-san laloe serahken iapoenja vulpen sendiri dan kloearken dari sakoe djasnja bebrapa lembar kartoe post, jang ia selamanja sedia.
„Tida........ besok sadja, sesoedahnja akoe kloear dari ini roemah akoe nanti toelis pada iboekoe, akoe tida ingin menoelis soerat di ini roemah jang kotor