Begitoelah ia berbaring sambil merinti-rinti seperti anak ketjil.
„Makan ini nona,“ berkata itoe boedjang sambil angsoerken sepiring boeboer jang masih panas dengen sedikit koewa.
„Tida. . . . . . . . . tida. . . . . . . . biarlah akoe mati kelaparan di sini. . . . . . . . . . . . tinggalkenlah padakoe sendirian.”
„Makan. . . .!!” kedengeran satoe soeara dengen sengit dan kasar dari djoeroesan pintoe. „Atawa akoe nanti djedjelken itoe di kaoe poenja moeloet.”
Njatalah itoe ada soearanja Kuang-hong jang bengis, jang sanget koeatirken sang korban nanti betoel-betoel mati kelaparan, kerna dengen mampoesnja sang korban, berarti satoe keroegian besar baginja.
A-moay badannja djadi bergoemeteran denger itoe soeara jang keras. Ia pandeng pada itoe lelaki keparat dengen penoeh perasa'an goesar. Tapi. . . . . . . . ia taoe jang ia tida berdaja dan tida bisa bantah apa jang djadi kehendakannja itoe manoesia binatang.
Dengen plahan ia paksaken boeat makan djoega itoe makanan, jang tida lebih enak dari makanannja satoe andjing.
„Inget. . . . . . . . . . . .” berkata poela Kuang-hong. „Membangkang berarti kaoe tjari sakit.” Ia laloe tinggalken lagi itoe kamar dan begitoe djoega itoe boedjang sasoedahnja beres bolehnja melajanin pada itoe anak jang tida berdosa.
Penerangannja itoe kamar laloe dibikin padem kombali.
„Och. . . . . . . . . . . . . . . . kenapa akoe tida denger katanja iboekoe. . . . . . . . . . . . Iapoenja doega;an ternjata tida meleset jang di loear negri orang-orangnja kebanja-”