22
TJERITA ROMAN
„Sampe ketemoe di plaboean pada hari minggoe pagi.” berkata itoe njonja hartawan.
Marika laloe ambil slamet berpisah
„Papa. . . . . . . . . . . .” berkata A-moay sesoedahnja marika berada di djalanan jang rame. „Mama tentoe merasa girang sekali, kaloe ia mengetahoei jang kita poelang dengen bawa ini oewang jang berdjoemblah tida ketjil. O, papa, akoe nanti kasihken ini semoea padanja boeat ongkosin pada A-fang aken teroesken peladjarannja di mana University.” A-moay laloe ketawa dan begitoepoen sang ajah djadi tetoeroetan tertawa, kerna saking girangnja.
Kong-chang ternjata boekan ada seorang jang begitoe mata doeitan, seperti kebanjakan orang miskin. Ia tida ambil itoe oewang dari sang anak dan waktoe itoe anak minta sang ajah boeat bawah itoe oewang ia laloe berkata:
„A-moay, bawa itoe oewang sampe di roemah dan serahkenlah sendiri pada iboemoe, agar ia nanti merasa girang.”
„Och, papa, akoe merasa broentoeng sekali.”
„Ja, anak kaoe broentoeng sanget.”
Waktoe sampe di roemah dan waktoe A-moay poenja iboe dikasih taoe tentang apa jang soedah terdjadi, ia telah oendjoeken djoega seperti ia toeroet merasa girang dengen itoe semoea. Tapi iapoenja perasa'an hati ada sebaliknja. Iapóenja aer mata laloe kloear toeroen dari kedoea matanja, kerna ia ada mempoenjain perasa'an jang tida enak sekali atas dirinja iapoenja poetri jang ia sanget tjintaken. Sedikitpoen ia tida merasa girang, maskipoen ia bisa ketawa.