ga seperti meremehkan sekali --.“
Nenek tua itu telah menghela napas.
„Tadi waktu aku sampai ditempat ini, kebetulan aku melihat kau hendak menusukkan pedangmu untuk menikam anak ini, untung sadja aku bisa bergerak dengan tjepat, dengan saldju jang kupulung-pulung itu, sehingga bisa kulontarkan pedangmu. Tjoba kalau tidak, bukankah sekarang anak ini sudah menggeletak tidak bernjawa lagi? Hmmm --- ternjata kau terlalu gampang menggunakan pedangmu itu untuk melukai orang ---?” dan waktu pada perkataanja jang terachir itu, suara si nenek sangat galak dan dingin sekali, dia djuga melangkah menghampiri Sun Hwa Ling dan Sun Hwa Lian, sehingga membuat kedua gadis itu tampak gemetaran ketakutan karena mereka memang mengetahui benar perangai guru mereka.
Ho Ho hanja menjaksikan sadja. Tadinja dia menduga bahwa si nenek tua ini sebagai gurunja kedua gadis ketjil itu, tentu akan memenangkan murid-muridaja itu. Namun sekarang melihat si nenek begitu marah terhadap diri kedua muridnja itu, hati Ho Ho djadi tidak enak sendirinja.
Apa lagi dilihatnja, tahu-tahu tangan nenek tua itu telah bergerak berulang kali: 'plak. plokk, plakk, plok'. Sun Hwa Ling dan Sun Hwa Lian Lian telah kena ditempelengnja, hati Ho Ho djadi tambah tidak enak.
L.M.Arwah-3.
29