pat tjepat mentjabut pedangnja djuga, dia menghampiri untuk menolongi Sun Hwa Ling, djika sendainja sang entjie ini mengalami sesuatu hal jang tidak diingini.
Ho Ho djuga mendongkol sekali melihat sikap galak dari kedua gadis ketjil tersebut. Usia kedua gadis ketjil ini dilihatnja mungkin baru dua atau tiga belas tahun, namun sikapnja begitu galak.
Perlahan-lahan Ho Ho menundukkan kepalanja sambil memedjamkan matanja pura-pura tertidur. Sedikitpun dia tidak mau melajani kedua gadis tersebut.
Hal ini tentu sadja membuat Sun Hwa Ling dan Sun Hwa Lian djadi tambah mendongkol.
„Keluar!” bentak Sun Hwa Ling dengan suara jang njaring sekali.
Tetapi Ho Ho tetap pura-pura tertidur dengan kepala tertunduk dan diam terus di tempatnja itu, disudut batu gunung jang menondjol keluar itu.
Sun Hwa Ling ketika melihat orang seperti tidak mau meladeninja, dia djadi tambah gusar.Tahu-tahu tubuhuja telah mentjelat, pedangnja ditudjukan kedekat tubuh Ho Ho.
„Kalau memang kau tidak mau djuga keluar, biarlah dengan pedang ini kupaksa engkau merangkak keluar !” antjam Sun Hwa Ling.
L.M.Arwah
17