Lompat ke isi

Halaman:Lontjeng Merenggut Arwah 02.pdf/71

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

Tetapi Ho Ho tetap membawakan lagak seperti tidak mendengar bentakan Peng Bin Koay-hiap, dia hanja memandang terus sekeliling kamar itu.

Hal ini membuat Peng Bin Koay-hiap djadi tambah mendongkol dan gusar.

Dengan sengit dan penuh kemarahan, djago tua bermuka jelek ini mengulurkan tangannja mentjengkeram pundak Ho Ho dengan tjukup keras dan digontjang-gontjangkannja.

„Botjah busuk! Apakah kau memang tiba-tiba sudah mendjadi tuli?" bentaknya dengan bengis.

Ho Ho merasakan pundaknja sakit sekali karena ditjengkeram oleh Peng Bin Koay-hiap. Namun, bukannja dia mendjadi takut malah botjah ini djadi gusar dan mengawasi Peng Bin Koay-hiap dengan mata jang memdelik.

„Lepaskan tjengkeraman itu!” teriak Ho Ho dengan bengis.

„Lepaskan? edjek Peng Bin Koay-hiap dengan mendongkol. „Hmmm — — kau kira aku ini sedang bitjara dengan patung? Mengapa tadi kau pura-pura berdiam diri sadja ketika aku adjak kau bitjara, heh?”

„Engkau sendiri jang telah memerintahkan agar aku diam!" sahut Ho Ho dengan sengit. „Tjoba kau ingat ingat, bukankah tadi kau telah membentak: 'diam! Diam! kepadaku? Maka dari itu aku leih baik memang berdiam diri sadja,”

L.M.Arwah 2.

71