Lompat ke isi

Halaman:Lontjeng Merenggut Arwah 02.pdf/69

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

,,Biarlah aku mati, sekaramg biar bagaimana, aku tidak mau mendjadi muridmu!”

,,Apa kau bilang?” bentak Peng Bin Koay-hiap seperti tidak mempertjajai pendengarannja dan dia djuga sangat marah sekali.

,,Hmmm— — — sekerang sadja aku belum mendjadi muridmu, tetapi kau telah menjiksa dan berani sembarangan menempeleng aku! Bagaimana kalau memang aku sudah mendjadi muridmu, tentu kalau aku salah bitjara sedikit sadja kau akan membunuhku dengan alasan kau adalah guruku— —!”

Mendengar perkataan Ho Ho, kembali Peng Bin Koay-hiap djadi melengak.

Memang harus dimengerti, diwaktu itu, setiap seorang guru berhak dan mempunjai wewenang melebihi kekuasaan kedua orang tua dari muridnja.

Kalau memang ada murid jang murtad dan berchianat dari sebuah pintu pergutuan, maka sang guru berhak untuk membunuhnja, karena itu kedua orang tua dari si anak jamg mendjadi murid itu tidak bisa melakukan apa-apa. Itu sudah mendjadi peraturan dan disiplin didalam setiap perguruan ilmu silat— —.

Maka dari itu, dikala Ho Ho menanggapi begitu, Peng Bia Koay-hiap djadi melengak dah untuk sesaat tidak bisa mengatakan apa-apa.

L.M. Arwah-2.

69