Perlahan-lahan Ho Ho bangun untuk duduk diatas pembaringan ketjil itu.
Ho Ho mengutjek-ngutjek matanja jang masih agak sepat dan silau oleh tjahaja saldju dan matahari jang berpantulan masuk kedalam kamar itu. Perasaan njaman dirasakan benar oleh botjah ini, dan dia merasaken djuga bahwa sakit pada dadanja telah lenjap.
Dengan perlahan-lahan Ho Ho turun dari pembaringan, dan waktu merasakan tubuhnja segar dan tidak merasakan apa-apa lagi pada dadanja; dia menudju kearah pintu rumah itu jang terbuka mendjeblak.
Dilihatnja saldju masih turun sedikit-sedikit, botjah ini menarik napas dalam-dalam, dan hawa segar jang dingin menjelusup kedalam dadanja menjegarkan sekali. Diam-diam Ho Ho djadi kagum djuga terhadap diri Peng Bin Koay-hiap, karena djago tua itu benar-benar memang dapat menjembuhkan luka pada dadanja, jang tadinja dirasakan begitu sakit, membuat dia sampai tidak bisa bergerak.
Teringat kepada Peng Bin Koay-hiap, Ho Ho djadi mengawasi kearah rumah itu, dia mengawasi seluruh ruangan tersebut.
„Kakek tua bermuka djelek itu sedang tidak berada dirumah ini, kalau aku melarikan diri tentu dia tidak tahu! Hmmm ― ― ― kalau memang nanti kakek bermuka
60
L.M. Arwah ― 2.