menghadapi sikap Ho Ho ini, Peng Bin Koay-hiap memang benar seorang iblis nomor satu didalam rimba persilatan, djarang jang bisa menandingi ilmu silatnja, dan biasanja sikap Peng Bin Koay-hiap sangat bengis sekali menghadapi lawan-lawannja tidak pernah dia memberikan pengampunan kepada orang jang tidak disenanginja. Namun seorang, botjah jang baru berusia sembilan tahun, telah berani demikian matjam menentang setiap perkataannja? Tentu sadja dia djadi murka bukan main.
Ho Ho melihat orang demikian marahnja malah si botjah telah tertawa tawar.
„Kapan lukaku ini bisa disembuhkan?” tegurnja dengan suara jang njaring.
„Dua hari!” sahut Peng Bin Koay-hiap dengan ketus dan menoleh kepada Ho Ho. „Tetapi ingat, kalau memang nanti kau telah sembuh dan ingin memungkiri djandjimu, maka― ― ― hmmm, tanpa ada tawar menawar lagi, akan ku'petjahkan batok kepalamu― ― ―!”
Mendengar antjaman dari Peng Bin Koay-hiap, Ho Ho sengadja tidak menjahuti, dia berdiam diri sadja.
Tentu sadja sikap Ho Ho tambah menggusarkan hati Peng Bin Koay-hiap Sam Tjong Gie.
„Kau dengar tidak, botjah busuk?” tegur Sam Tjong Gie.